Creamy Potato dan Jus Anggur Wlech yang promo di sevel 10ribu dapet 3 botol.

Oh my, it’s been awhile dengan Iseng dan Selo itu Beda Tipis series! Yeah, saya terlalu malas untuk meng-update apa aja keseleoan dan keisengan saya di dapur. Beberapa kali iseng dan selo terlewatkan begitu saja tanpa saya dokumentasikan jadinya ya tidak bisa diposting di blog daaaannn tadi pagi menjelang siang, setelah setengah tahun lebih saya tinggal di Jakarta, saya niat untuk mendokumentasikan iseng dan selo yang pernah saya coba sebelumnya >> Creamy Potato.

Iya, ini tanggal tuanya saya *dan saya yakin sebagian besar orang-orang yang bergawe bernasip sama seperti saya*. Tapi, apa salahnya memanjakan perut dengan makan yang kalau kata kakak saya, mewah, ya kan? Bahan-bahannya pun nggak susah buat dicari dan murah, saya yakin setua-tuanya tanggal, kalian pasti nimbun bahan makanan, ya yang suka nimbun sih, termasuk saya, ahak. At least yang punya kulkas pasti suka nyimpen macem sosis/nugget atau yang doyan keju pasti punya stoknya, jadi nggak perlu keluar duit banyak buat bikin menu satu ini.

Kalau yang jarang nimbun bahan makanan, daripada ente jajan diluar harganya bisa sampe 30-40ribuan perporsi belum sama biaya tralala lainnya, coba deh bikin sendiri nih menu, harga-harga bahannya nggak lebih dari 25-30ribu *yang bikin mahal biasanya si keju, tapi sekarang kan craft keluarin versi mini yang bisa dibeli dengan harga sekitar 7-8ribu rupiah aja*. Then, let’s get started!

Bahan-bahan:

  1. 2 buah kentang berukurang sedang, tanpa kupas, cuci bersih, potong tipis.
  2. Sosis 2 batang, terserah mau sapi atau ayam, potong bulat/serong juga selera kalian :3.
  3.  Keju, potong dadu seukuran 1 cm. Kalau pakai craft mini pakai semuanya aja, tapi kalau punya yang besar bloknya, cukup pakai sekitar seperempat-sepertiga blok keju.
  4.  Susu fullcream, 125 ml.
  5.   ½ bawang bombay ukuran sedang, potong dadu kecil.
  6.  2 siung bawang putih, geprek, cincang halus.
  7.  Daun bawang, potong serong tipis.
  8.  Garam dan merica secukupnya.
  9.  Mentega untuk menumis.
  10.  Minyak goreng buat goreng si kentang~

Cara membuat:

    1.   Cuci bersih kentang-kentang yang sudah diiris tipis untuk menghilangkan getah kentang. Kenapa nggak dikupas? Kulit kentang itu edible kok, dan bagi saya kulit kentang bikin kentang jadi makin crispy kalau digoreng/dipanggang, lihat aja resep-resep bule yang pakai bahan kentang, beberapanya suka nggak ngupas juga. Ahahaha. Goreng hingga matang *kalau motongnya terlalu tipis bisa jadi kripik kentang, wkwkwk* dan jangan lupa tiriskan :3. 

   2.    Lelehkan mentega. Tumis bawang bombay dan bawang putih hingga harum lalu masukkan potongan sosis. Aduk hingga sosis terlihat matang *kalau motongnya agak tipis sosis tandanya matang adalah mereka bakalan mencekung*.
untuk mentega saya pakainya cukup banyak, sekitar 2-3 sendok makan.

     3.       Kecilkan api. Masukkan potongan keju hingga terlihat meleleh dan terakhir masukkan susu secara perlahan. Asiknya bikin menu ini adalah kita nggak perlu repot-repot pakai cairan tepung maisena karena mereka bakalan mengental sendiri. Jangan lupa tambahkan garam dan merica secukupnya *jangan lupa dicicipin pokoknya, tadi saya masukin garamnya ngawur jadinya ya asin, lupa kalau udah ada keju dan susu yang semuanya berasa gurih, orz*.

      4.       Kalau sudah blupuk-blupuk dan tingkat kekentalannya sesuai dengan yang diinginkan, masukkan rajangan daun bawang, aduk rata sebentar. Matikan api~.

It's done!

      5.      Platting:
  • a.       Susun setengah kentang yang sudah digoreng seperti gambar diatas;
  • b.      Tuang sebagian dari krim yang sudah dibuat;
  • c.       Tumpuk lagi dengan sisa kentang goreng;
  • d.      Dan... voila! Jadi deh Creamy Potatonya. Kalo masih ada sisa rajangan daun bawang boleh banget jadi garnish ala-ala :3
   
     Gampang kan? Daripada jajan mulu bikin boros biaya transportasinya, mending bikin sendiri aja. Oh ya, jangan pernah stuck dengan bahan-bahan yang ada disini ya. Misalnya kamu nggak suka daun bawang, bisa pakai wortel atau brokoli. Sosisnya pun bisa diganti dengan kornet. Pokoknya, sesuain selera dan budget tentunya. Selamat mencoba! 


Hai, lama tak bersua di blog ini, apa kabar?

Oh ya, tidak terasa, another year has passed by and the last posting was a freakin year ago, the hell I was doing.. ah, yes, a lotsa lotsa happened in 2015 actually. Dari yang udah nggak jadi tukang masak di kafe temen, jadi foodgrammer ala-ala,  bantu-bantu alih-bahasa di salah satu website Jepang, sampai tiba-tiba saya terdampar di Jakarta, sampai sekarang.


Salah satu bukti saya memang merantau di Jakarta. Foto-foto ini diambil tahun baruan kali ini di Bundaran HI, dan untuk pertama kalinya saya tahun baruan di luar Jogja! 

Dibilang punya bayangan akan bekerja di Jakarta, nggak ada. Tapi saya jadi teringat akan salah satu tulisan yang saya tempel di lemari belajar di kamar di Jogja kalau saya kepengen ke Jakarta. Niatan tulisan itu kalau tidak salah ingat sebenarnya cuma pengen main, ketemuan sama temen-temen yang ada disini. Eeh nggak tahunya malah meniti karir #tssaaahhmenitikarir di ibukota. Masih seumur jagung sih, tapi yah, I’m a capital slave now, wkkkkk.

Rencana untuk bekerja disini sebenarnya nggak mau lama-lama. Ya, nggak tahu juga sih kedepannya bakalan seperti apa jadinya. We’ve all planning, but certainly God will deciding, right?

Tentang pekerjaan? Sekarang saya adalah budak bekerja di salah satu perusahaan di bidang travel expert di daerah Sudirman, tepatnya berlokasi di gedung BRI II, lantai 21. Pekerjaannya di bagian quotation, penjelasan gampangnya yang bikin itinerary liburan orang. Marketnya Jepang, jadi orderan itinerary pakai bahasa Jepang dan outputnya pakai bahasa Inggris (kirim balik ke sales yang orang Jepang, yang notabene bahasa Inggrisnya.. well, singkat). Senin – Jumat, jam kerja antara dari jam 9 atau jam 10 pagi sampai.. ya sampai bosen atau udah merasa bego untuk bekerja, hahaha. Tapi normalnya bekerja sampai jam setengah 6 – setengah 7 malem.

Dibilang betah, ya betah kalau orderannya lagi nggak resek kayak peyek #nggaknyambung. Betah tinggal di Jakarta? Dibetah-betahin juga, toh Jakarta adalah gudangnya event, konser dan makanan! Hahaha, tetep ya kalau makanan itu jadi nomor 1, walau duit tinggal menipis #plak.

Tentang pekerjaan udah, betah gak betah juga udah. Nah, sekarang .. yang ditunggu-tunggu, resolusi 2016! Ini adalah hal yang paling umum orang akan bicarakan, dari yang sederhana sampai muluk-muluk tingkat dewa, hayoo ngaku.

Resolusi ya.. ehm.. jujur jarang banget saya punya pandangan bakal ngapain kedepan, karena pertama saya orang yang tipe let it flow dan kedua saya nggak mau repot memikirkan hal yang jauh-jauh, prefer dadakan daripada rencana, soalnya sering banget yang direncanakan malah gagal (lol). Tapi nggak ada salahnya punya visi tahun ini semacam bisa bikin usaha sendiri, apapun itu, bidang kuliner, fotografi, bahasa, atau travel. Saya jadi teringat salah satu kata bijaksana dari akun LINE yang saya ikuti yang intinya kita boleh bekerja di bawah orang, tapi setidaknya kamu punya usaha sendiri karena usaha sendiri itu rasanya lebih manis(?), ya pokoknya gitu.
Dan tentu saja, masih dengan cita-cita tahun sebelumnya, mencari uang demi membeli pengganti dai90, kamera kesayangan yang mati total Mei 2014 lalu, yosha!

Masalah temen kelonan.. eh, temen hidup ala lagunya Tulus.. minimal tahun ini saya nggak “lihat ke belakang” aja, karena semuanya udah bisa lihat ke depan #pakekacamatakudasoalnya. I’m done enough with bf things actually, and getting tired to think about that too. Kalau jodoh pasti didekatkan sama Tuhan, simpel.

Guess this is the end for now. Once again, happy new year for all of you, fellas!
2016, please be nice and brighter than a years ago :)
Tinggal menghitung jam saja angka 2014 berganti menjadi 2015. Tahun baru sebentar lagi. 365 hari kembali berlalu. Banyak kejadian-kejadian yang membuat up and down and up again dan melatih mental yang lama-lama bikin mental, haha.

Pengalaman yang paling kece tentu saja bisa ke rumah Allah yang paling aku sayangi. Terus, sempat jadian sama teman paling asyik yang bikin menyesal harus kehilangan “keasyikan” dia pada akhirnya. Masih sempat digangguin sama mantan yang sekarang sudah mencapai bahagianya kini. Skripsi yang nggak terlalu pengen dikerjain tapi akhirnya kelar juga (sangat berterimakasih sama neng @ditaaart , sasuga goldar A, pengingat yang paling ampuh hehehe). Masa alumni langsung diwarnai dengan mengurus pameran di instansi sendiri dan akhirnya merintis diri menjadi seorang pemasak di salah satu kafe di Yogyakarta, one of my passion finally, granted (sakjane masih pengen main dulu sih, hahaha, tapi kalau ditunda dipatok ayam lain :v)

Nggak kerasa pula, saya melewatkan dengan tanpa dosa project foto saya di akun instagram orz... semoga tahun 2015 bisa nge-project foto lagi :3.





Well, postingan ini saya tutup dengan foto senja terakhir tahun 2014, selamat tahun baru, selamat menyelesaikan resolusi-resolusi yang telah dibayangkan dan diharapkan.
Hola halo, sudah 2 minggu lebih kita berpuasa ya, tidak terasa sebentar lagi kita sudah menyambut Hari Kemenangan, harus semakin gencar mengejar pahala sebanyak-banyaknya nih. Di edisi iseng dan selo #5 ini saya mau memberi resep yang kuah-kuah lagi, karena beberapa hari ini kota Jogja dilanda hujan dan udaranya yang adem-adem itu membuat saya ingin buat satu makanan dari resep yang sebenarnya sudah lama ingin banget saya coba. Saya temukan di majalah Animonster edisi Desember 2008, tapi lagi-lagi saya memodifikasinya sedikit dengan menambahkan parutan wortel dan kentang di dalam gulungan dan juga lelehan keju mozarella diatasnya hahaha. Eniwei, postingan ini tidak bermaksud untuk mengurangi esensi ibadah puasa kalian dengan makanan loh, kali aja malah untuk ide kalau-kalau kalian bosan dengan olahan yang begitu-begitu saja ;).

Olahan kali ini bahan utamanya hakusai alias sawi putih. Hasil contekan dari majalah Animonster, hakusai mengandung 95-96% air dan berbagai macam nutrisi, antara lain vitamin C, serat, potasium, dll meski jumlahnya sedikit. Kandungan tersebut saya rasa cocok banget buat hidangan berbuka puasa, karena kandungan air dan vitamin C-nya dapat mengembalikan cairan tubuh yang terkuras seharian. So, let’s get started~

Bahan-bahan:
6-10 helai hakusai/sawi putih. Bisa juga menggunakan kubis kalau kalian suka :3
sudah layu karena air panas :3

3 lembar daging asap

½ cangkir krim mentah

1-½sdt kaldu bubuk (masako, royco, dll) larutkan dalam satu-satu setengah air hangat

1 siung bawang putih, geprek, cincang halus

Garam dan lada secukupnya

Wortel dan Kentang masing-masing ¼ bagian saja diparut tipis

½ butir kecil bawang bombay, cincang halus lalu tumis sebentar.

Keju mozarella, secukupnya (sesuai selera sih hehe), parut.

Cara membuat:
-Masukkan helai-helai sawi yang telah dipisahkan ke dalam air panas/air mendidih selama 3-4 menit hingga layu. Kalau dalam versi saya, saya menggunakan helaian sawi putih yang bagian dalam, jadi ukurannya kecil-kecil :3. Tiriskan helai-helai sawi yang telah layu di piring.


-Taburkan sedikit garam di atas sawi yang telah layu, setelah itu taburkan pula parutan wortel dan kentang lalu gulung helaian sawi putih satu persatu dari ujung pangkal hingga ke ujung helai daun.

-Potong daging asap secara vertikal menjadi 2-4 bagian dan kemudian lilitkan pada gulungan sawi tadi dengan potongan daging asap.

-Susun gulungan-gulungan sawi putih tadi di dalam panci lalu masukkan larutan kaldu bubuk dan juga bawang putih yang telah dicincang halus. Biarkan mendidih.

-Bila telah mendidih, kecilkan api, masukkan krim mentah sedikit demi sedikit dan juga lada secukupnya dan terus jerang diatas api kecil selama 10-15 menit.

-Masukkan sawi putih yang telah matang ke dalam mangkuk anti panas (saya masukkan 2 sawi putih di dalam satu mangkuk) tutup dengan krim, diikuti dengan bawang bombay yang telah ditumis (kalau ada daging asap yang sisa, potong dadu, tumis bersama bawang bombay) di atasnya setelah itu baru parutan keju mozarella sebagai akhir topping.
tumisan daging asap dan bawang bombay

parutan keju mozarella sebagai final topping, siap di panggang!

-Panggang dalam oven selama 5-10 menit hingga keju meleleh.

-Hakusai roll siap dinikmati~!



Selamat mencoba!
Hae gaes, gimana puasanya? Nggak terasa sudah seminggu lebih kita menjalankan kewajiban kita di bulan Ramadhan ini ya! Dan sudah lama juga saya tidak menulis dengan topik satu ini, iseng dan selo itu beda tipis #lihatpostinganterakhir #tahunlalu #ngeng.

Kali ini karena temanya bulan puasa dan beberapa kali Jogja diderai hujan, apalagi dari awal bulan puasa memang udah kepengin banget minimal makan yang namanya: bakso dan kuah. Well, karena kangen juga sama mie yamin di daerah Pathuk, Malioboro sana, dengan siomay kuahnya yang rancak banah itu yang sayangnya (bagi saya) sulit untuk dikunjungi kalau lagi puasa begini, selain kejauhan, teman-teman kuliah saya yang biasanya makan bareng di tempat itu satunya lagi mudik yang satunya lagi mau KKN, akhirnya kepikiran buat bikin sendiri saja, namanya juga selo :v. Resep siomay kuah-nya sendiri sebenarnya nyomot dari web satu ini:


Bahan Siomay:
6 lembar kulit pangsit rebus, siap pakai (kalau versi saya pakai 9 kulit pangsit)
50 gr wortel, serut halus (kalau saya nggak sampe 50 gr malah, cuma sekitar 20 gr :p)
~Tambahan~: daun pakcoy robek/potong bentuk segitiga

kulit pangsit instan, banyak di supermarket, di mirota juga ada

Adonan Isi, aduk jadi satu:
200 gr daging ayam cincang (ataupun giling, tinggal beli di supermarket :3)
100 gr udang kupas cincang (saya pakai sekitar 6 udang saja sebenarnya)
2 siung bawang putih, parut
1 sdm bawang merah goreng, gerus halus
1 sdm tepung terigu
1 sdm tepung kanji
1 kuning telur ayam (anyway, putih telurnya jangan dibuang ya!)
½ sdt merica bubuk
1 sdt garam


Keterangan angka: 1. daging ayam giling; 2. udang cincang; 3. bawang goreng yang udah digerus; 4. tepung terigu; 5. tepung sagu/tepung kanji; 6. bawang putih yang udah dihaluskan; 7. kuning telur; 8. garam; 9. merica.

Bahan kuah, rebus jadi satu:
500 ml kaldu ayam (saya pakai tulang ayam yang dagingnya masih menempel sedikit)
1 siung bawang putih, cincang, tumis (saya nggak pakai ditumis, langsung digeprek begitu saja)
½ sdt merica bubuk
1 sdt garam
1 sdm daun bawang iris kasar (saya pakai daun bawang yang kecil ukurannya, karena bentuknya lucu dan jarang :p)
~Tambahan~:
6 buah bakso ikan, potong jadi dua
6 buah bakso sapi, potong jadi dua
Daun pakcoy
Mie ayam (mie telur) siap masak




kaldu ayamnya, dagingnya bisa kalian ambil untuk disajikan berbarengan dengan mie ayam :3
kayaknya ini satu merk sama pangsit yang saya beli, hahaha.

Cara membuat:
-Siapkan mangkuk-mangku kecil tahan panas, olesi sedikit minyak.

\

-Lapisi masing-masing dengan kulit pangsit yang selanjutnya diolesi dengan putih telur. Kalau versi saya, saya tambahkan daun pakcoy barulah diisi dengan adonan hingga penuh (kira-kira 1,5 - 2 sendok makan).


Kebetulan emak saya tidak begitu suka dengan saudara dan sebangsa sawi, jadi beberapa diantaranya ada yang tidak saya kasih robekan daun pakcoy :3

-Kukus dalam kukusan panas hingga matang (sekitar 7-10 menit)

-Rebus mie telurnya dengan langsung mencelupkan dengan penjaring/saringan di dalam panci rebusan kuah, tunggu 5 menit, angkat.


Dan...voila!

Mie Ayam + Siomay Kuah ala rumah~~
suwiran ayam yang untuk kaldu tadi ditaruh berbarengan dengan mie :3
いただきます~!

Sekian dulu masak dan memakannya, selamat mencoba~! Semangat terus puasanya ya! \(^o^)/
Karena kita hanya manusia, yang tiba-tiba merasa lapar dan haus dan siap mengonsumsi makanan atau minuman apa saja dan terkadang lupa atau bahkan sengaja melupakan bahwa itu bisa berbahaya bagi tubuh kita

Karena kita hanya manusia, yang terkadang kurang sadar atau bahkan sengaja berpura-pura tidak sadar bahwa sikap, perlakuan, perkataan dan kebiasaan dapat merusak sekitar kita, entah secara fisik atau perasaan sesama.

Karena kita hanya manusia, yang terkadang emosi atau bahkan sengaja meluapkan amarah hanya karena masalah sepele, misalnya? Pilih nomor 1 atau 2 di pesta demokrasi periode kali ini, yang membuat banyaknya putus tali pertemanan yang sudah dibangun lama. Padahal, terpilih atau tidak jagoanmu, tidak akan membuatmu langsung jadi kaya, atau menempatkanmu di jajaran orang teratas di pemerintahan dalam sekejap, semua itu ada prosesnya, nggak ada yang instan. Namun hal itu bisa membuatmu memiliki banyak musuh, dalam hitungan waktu yang singkat hanya karena, kamu, manusia yang mempertahankan ego, ngotot kalau jagoannya yang paling oke.

Karena kita hanya manusia, yang terkadang teledor atau bahkan sengaja menunda waktu untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan penting, dan akhirnya mengeluarkan jurus 1001 alasan mengapa tak selesai atau tidak dikerjakan sama sekali.

Karena kita hanya manusia, yang terkadang tidak memperhatikan atau bahkan sengaja tidak mendengar nasehat orang-orang yang peduli dengan kita.

Karena kita hanya manusia, yang terkadang merasa orang paling kesepian atau bahkan sengaja tidak melihat bahwa ada orang-orang sekitar yang memperhatikan kita.

Karena kita hanya manusia, yang terkadang suka galau, merasa orang yang paling menyedihkan atau bahkan sebenarnya sadar sepenuhnya kalau memang sengaja menenggelamkan diri terhadap masalah hatinya.

Karena kita hanya manusia, yang terkadang tidak jujur atau bahkan sengaja berbohong karena alasan demi kebaikan bersama. Padahal dalam hati berkata lain.

Karena kita hanya manusia, yang terkadang merasa butuh pencitraan atau bahkan sengaja menggunakan banyak topeng agar terlihat lebih baik di mata banyak orang.

Karena kita hanya manusia, yang terkadang merasa makhluk paling sempurna atau bahkan sengaja memamerkan kesempurnaannya itu dengan baju-baju yang terlihat belum selesai dijahit.

Karena kita hanya manusia, yang terkadang merasa paling pintar atau bahkan sengaja sok tahu tentang segala hal.

Karena aku hanya manusia, maka aku sengaja menulis ini.

Karena kamu hanya manusia, yang diantara kalian ada yang membatin, menyangkal atau mencemooh tulisan ini atau bahkan sengaja menutup mata untuk tidak membaca dan melarikan diri karena takut menerima kenyataan, bahwa aku dan kamu itu sama, hanya manusia yang bukan apa-apa di mata Tuhan.
Betulkah hari Selasa, minggu ini, tanpa sengaja kita bertemu di tempat percetakan umum—tanpa ada perjanjian sama sekali adalah sebuah kebetulan? Kau menghampiriku yang berpura-pura tidak melihatmu, padahal aku sadar sepenuhnya saat kamu masuk ke ruangan yang sama denganku, berpura-pura bahwa aku tidak menyadari keberadaanmu. Cukup aneh rasanya, seminggu setelah kita tidak bercakap-cakap dan dipertemukan secara kebetulan. Kaget, takut, sekaligus ada rasa senang yang aneh yang merambat karena “kebetulan” yang singkat itu.

Esoknya, kita bertemu, disengaja karena aku memintanya. Aku dan kamu, hari itu, “berjanji” untuk tidak akan banyak bertemu, banyak bercakap, dan menganggap ini adalah hari terakhir dan hari dikuncinya rasa yang kita simpan dan tak akan mengungkit-ungkitnya kembali. Kamu berkata akan mengubur perasaan itu dan aku hanya mendapatkan diriku menangis, karena itulah kenyataannya, itulah akhirnya. Dan aku meminta permintaan-permintaan terakhir yang rasanya tidak akan pernah didapati kemudian hari. Hari itu pula ditutup dengan banyak tawa dengan bermain dengan teman-teman satu rumahmu dan tetangga-tetangga kecilmu yang manis, dan malam ini sama seperti malam sebelumnya-sebelumnya selama setahun ini, ketika aku setelah mengantarmu pulang atau sehabis dari rumah kontrakanmu, kamu mengirim pesan singkat: "Sudah sampai rumah?" yang baru kubaca paginya.

Namun entah mengapa, ada komponen-komponen di dunia ini yang tidak terima akan kesepakatan hari itu. Karena kemarin, tanpa disengaja dan tanpa perjanjian, kembali kita bertemu, di ruangan yang kini tak sedingin tahun lalu, ruangan dimana dulu kaki-kaki besarmu yang kedinginan membungkus kaki-kakiku, meminta kehangatan. Aku mendapatimu sedang tertidur di salah satu sofa di sana, dan tanpa banyak pikir aku langsung duduk di sebelahmu yang membuatmu terbangun, diikuti wajahmu yang terpasang sedikit kaget. 

“Halo, sudah kelar ujiannya?” Ucapku membuka percakapan.

“Iya, nanti jam setengah 2 ujian lagi, cuma numpuk makalah” Jawabmu yang kuikuti anggukan kepalaku.

“Mau makan nggak?” Tiba-tiba kamu bertanya seperti itu, yang langsung aku saut anggukan kepala lebih cepat karena sadar belum makan sedari pagi dan waktu itu menunjukkan pukul setengah 12 siang. Kita melesat menggunakan motorku ke arah kampus, mengambil helmmu dan akhirnya kita makan siang, bersama.

“Kebetulan” hari itu benar-benar kita manfaatkan, melupakan perjanjian yang sehari sebelumnya kita buat. Setelah kamu selesai menumpuk tugas untuk ujianmu, kita melaju ke pameran di salah satu art gallery di daerah Krapyak.

“Ini sih cuma mengulang cerita setahun lalu” Ujarku. Dan kamu hanya terkikih pelan. Ya setahun yang lalu, aku menawari diri untuk menemanimu ke suatu acara yang mengusung tema yang menjadi passionmu selama ini dan terjadi kembali, hari ini dengan suasana yang sama, keadaan mendung kelam yang siap memuntahkan rintik-rintik air.

Perjalanan kita dilanjutkan ke salah satu cafe dimana kita dulu beberapa kali memiliki cerita disana, dan kita membuat satu cerita lagi di tempat yang sama, dan membicarakan hal-hal yang seharusnya kita kunci, yang tidak boleh kita buka kembali, dengan suasana yang masih sama hingga akhirnya rintik-rintik air itu jatuh dari atas langit gelap itu, membuat hal-hal tersebut terbuka begitu saja.

Seselesainya hujan, kita segera mencari tempat untuk beribadah dan setelahnya masih ingin melanjutkan manfaat “kebetulan” itu, sayangnya, ada satu kebetulan yang membuatmu sedih, dan matahari benar-benar sudah tenggelam yang memaksaku untuk menyudahi manfaat “kebetulan” hari ini pula. Hawa setelah hujan dan waktu menuju malam, membuat suhu di sekitar kita mendingin, dan aku kembali meminjam jaketmu, yang sehari sebelumnya kukembalikan padamu. Apakah ini juga kebetulan, agar aku bisa menemuimu lagi?

Kejadian-kejadian beberapa hari di minggu ini hanya mengingatkanku pada tahun lalu. Masih ingat kah kejadian setahun yang lalu? Di ruangan yang sangat-tidak-terkenal-sama sekali dikalangan mahasiswa di kampus kita itu—dan bahkan aku pun sendiri sekarang sudah tidak mengenal sama sekali ruangan itu, bermula dari kejadian 5 hari, dan cerita kita mulai berkembang yang diwarnai banyak cerita, tawa, canda, sedih, suka, kecewa, kesal dan rasa lainnya. Mungkin ada beberapa komponen di dunia ini yang menginginkan kita untuk terus mengingat hal itu, dengan cara kebetulan-kebetulan yang muncul begitu saja. 

“Kata orang tidak ada yang kebetulan” Katamu dan aku juga cukup sering mendengar kalimat itu dari banyak orang yang kamu sebutkan itu. Ya, aku percaya di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan, semua sudah Ada yang mengatur, tinggal bagaimana kita melihat, mencerna,  dan... mensyukurinya.



PS: cerita ini teruntuk "Anonymous" yang dulu pernah menunggu kelanjutan ceritanya, I'll be waiting for you to read again my story and write some comment to this post.

Eniwei, Happy Fasting! Though is too fast a day, but, kita bentar lagi ketemu bulan Ramadhan yang di rindu-rindukan banyak insan Muslim di dunia ini! Selamat berpuasa dan mohon maaf jikalau ada kesalahan ya, mari kita berlomba-lomba cari pahala lagi di bulan puasa tahun ini, yei! \^^/