Showing posts with label personal. Show all posts
Showing posts with label personal. Show all posts
Karena kita hanya manusia, yang tiba-tiba merasa lapar dan haus dan siap mengonsumsi makanan atau minuman apa saja dan terkadang lupa atau bahkan sengaja melupakan bahwa itu bisa berbahaya bagi tubuh kita

Karena kita hanya manusia, yang terkadang kurang sadar atau bahkan sengaja berpura-pura tidak sadar bahwa sikap, perlakuan, perkataan dan kebiasaan dapat merusak sekitar kita, entah secara fisik atau perasaan sesama.

Karena kita hanya manusia, yang terkadang emosi atau bahkan sengaja meluapkan amarah hanya karena masalah sepele, misalnya? Pilih nomor 1 atau 2 di pesta demokrasi periode kali ini, yang membuat banyaknya putus tali pertemanan yang sudah dibangun lama. Padahal, terpilih atau tidak jagoanmu, tidak akan membuatmu langsung jadi kaya, atau menempatkanmu di jajaran orang teratas di pemerintahan dalam sekejap, semua itu ada prosesnya, nggak ada yang instan. Namun hal itu bisa membuatmu memiliki banyak musuh, dalam hitungan waktu yang singkat hanya karena, kamu, manusia yang mempertahankan ego, ngotot kalau jagoannya yang paling oke.

Karena kita hanya manusia, yang terkadang teledor atau bahkan sengaja menunda waktu untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan penting, dan akhirnya mengeluarkan jurus 1001 alasan mengapa tak selesai atau tidak dikerjakan sama sekali.

Karena kita hanya manusia, yang terkadang tidak memperhatikan atau bahkan sengaja tidak mendengar nasehat orang-orang yang peduli dengan kita.

Karena kita hanya manusia, yang terkadang merasa orang paling kesepian atau bahkan sengaja tidak melihat bahwa ada orang-orang sekitar yang memperhatikan kita.

Karena kita hanya manusia, yang terkadang suka galau, merasa orang yang paling menyedihkan atau bahkan sebenarnya sadar sepenuhnya kalau memang sengaja menenggelamkan diri terhadap masalah hatinya.

Karena kita hanya manusia, yang terkadang tidak jujur atau bahkan sengaja berbohong karena alasan demi kebaikan bersama. Padahal dalam hati berkata lain.

Karena kita hanya manusia, yang terkadang merasa butuh pencitraan atau bahkan sengaja menggunakan banyak topeng agar terlihat lebih baik di mata banyak orang.

Karena kita hanya manusia, yang terkadang merasa makhluk paling sempurna atau bahkan sengaja memamerkan kesempurnaannya itu dengan baju-baju yang terlihat belum selesai dijahit.

Karena kita hanya manusia, yang terkadang merasa paling pintar atau bahkan sengaja sok tahu tentang segala hal.

Karena aku hanya manusia, maka aku sengaja menulis ini.

Karena kamu hanya manusia, yang diantara kalian ada yang membatin, menyangkal atau mencemooh tulisan ini atau bahkan sengaja menutup mata untuk tidak membaca dan melarikan diri karena takut menerima kenyataan, bahwa aku dan kamu itu sama, hanya manusia yang bukan apa-apa di mata Tuhan.
foto jaman jebot, adanya ini yang lengkap orz


Bulan Mei, tepatnya sebenernya saya nggak begitu hapal, tapi salah satu diantara kami berkata pada tanggal 11, ya kemarin. Saya selalu berjanji pada diri sendiri akan memposting ketika kami merayakan hari jadi kami, DMALIKAM.

AWAL KATA D’MALIKAM
Berawal dari kami, berlima, saya (Mala), Ajeng, Lia, Icha dan Kiki menjadi salah satu tim dalam sebuah perlombaan majalah dinding ketika kami masih SMA, tepatnya masih kelas 2 SMA. Ketika semua nama-nama tim mading dari sekolah lain menggunakan kata dengan filosofi yang berbelit, kami hanya memilih satu kata, MALIK dengan menambahkan huruf D di depannya (ceritanya sih biar kece ala band Maliq & D'essentials, mwahahaha) yang tak lain adalah singkatan dari nama-nama kami, sesederhana itu kami memilih nama dan Alhamdulillah-nya masih bisa meraih jajaran 3 besar kala itu ;)
Selang beberapa waktu, Arman bergabung bersama kami. Awal tepatnya dia bergabung saya sudah lupa, tapi yang jelas Arman ini selalu kami ajak buat main bareng dan untungnya dia mau-mau aja, hehe. Dan kebetulan pula Arman ini teman saya sedari kami masih SD (jadi mudah ngehasut dia buat main bareng, bweek :p), dan nggak lama Arman bergabung, Momo juga ikut (tepatnya kami seret) bersama kami, dan well... jadilah D’MALIKAM, sebuah kumpulan warna sedari SMA hingga hampir menuju dunia kerja (tssaaahh).

AWAL KATA “TETECE” DAN “GUMIES”
Nah, kalo kata TETECE itu juga singkatan yang sederhana juga yang dikarang sama Arman (anak satu ini emang paling jago kalo bikin istilah btw :p). Kepanjangannya Tenguk-Tenguk Crito. Tenguk-tenguk itu sebenarnya dari bahasa Jawa yang kalau saya cek di internet (si Empu istilah belum balas waktu saya ketik ini, hahaha) mendekati kata nongkrong, tapi kalau yang punya artikelnya (kalian bisa cek disini) bilang lebih ke aktivitas hanya duduk, domblong (bengong), lirik sana-sini. Tapi kalau dari Arman beda, maksudnya ya duduk-duduk cerita, alias, kami kumpul, duduk disuatu tempat (apapun tempatnya itu, yang nggak elit sekalipun semacam pinggiran nol kilometer atau angkringan tugu sudah cukup) dan bercerita, macam-macam. Dari curhat pacar, sekolah/kuliah, ujian, teman sekampus, musuh, bahkan sampai gojeg kere (becandaan nggak mutu) pun kami suarakan. Membuang waktu? Memang, tapi kami puas, karena semenjak kami tidak satu sekolah, terpisah, banyak kegiatan di waktu dan tempat yang berbeda, membuat kami sulit untuk bertemu. Dan itulah momen berharga kami, ketemu, ngobrol nggak karuan, kesana kemari.
Nah kalo GUMIES sendiri sebenarnya saya buat karena mau membuat grup di FB, karena saking jarangnya kami bertemu. Sayangnya sekarang udah nggak begitu aktif, karena sudah pindah kandang ke LINE, lebih praktis dan mudah dicek. GUMIES sendiri itu dari kata GUMI, yang saya ambil secara ngasal dari bahasa Jepang, dari kata bangumi yang berarti program TV, hahaha, nggak nyambung memang, tapi kalau ditilik, program TV itu banyak ragamnya yang disampaikan, begitu pula kami, ketemu, banyak hal yang bisa kami bicarakan, kami utarakan.

US!
Bicara tentang kami, kami ini satu sama lain sifatnya beda-beda. Suka debat, tapi baikannya juga cepat. Sebenarnya hal tentang orang-orang di dalam D’MALIKAM sudah pernah diposting sama Arman di blognya, tapi itu dari pandangannya. Nah sekarang, dari saya yak ceman-ceman :p

Ajeng: wanita (atau masih gadis? ah sudahlah :v) satu ini adalah manusia pertama diantara kami yang sudah lulus pendadaran dan tinggal nunggu wisuda (dan juga dilamar kekasih, ihir!). Ajeng itu orangnya tipe-tipe tsundere kalau istilah Jepangnya, keras tapi sebenarnya niatnya baik dan lembut (bweehh). Pertama kali kenal dengan Ajeng, saya selalu berpikir bakal nggak cocok sama orang ini (aku jujur jeng, jujur!) karena watak teguh dan sedikit ngototnya itu (dulu kok jeng, dulu, sekarang sih masih, tapi sudah cukup terkontrol *slapped*), tapi saya suka loh curhat tentang pacar sama ajeng. Advice-nya bisa dibilang “bener juga, ya”. Jadi kalau ngobrol sama dia isi utamanya adalah satu: curhat tentang laki.

Lia: cewek gahol satu ini nasibnya mirip-mirip sama saya, pernah pacaran sama lelaki yang punya hubungan sama kompie yang berujung kandas. Cewek yang supel tapi kalau ngomong kadang-kadang suka lupa di-filter ini adalah penyelamat waktu KKN saya dulu. Sampai sekarang barang-barang saya masih di rumahnya dia yang kebetulan cuma 10 menit dari tempat KKN (sori li, ASAP saya ambil wis). Kalau ngomong sama dia nggak jauh-jauh dari foto dan musik indie, betul begitu mbak Lia?

Icha: gadis murah hati dan tidak sombong tapi tiba-tiba suka heboh sendiri ini adalah yang paling muda diantara kami tapi termasuk jajaran yang udah kelar kuliahnya. Rumahnya yang kebetulan belakang SMA kami selalu jadi tempat nongkrong atau sekedar jadi tempat kumpul kalau kita mau ketemuan atau pergi ke suatu tempat. Sikap nyonyah (panggilan kami buat Icha) satu ini lebih suka jadi penengah ketika semuanya pada ribut. Ngobrol sama nyonyah nggak jauh-jauh dari kehidupan kerjanya dia sekarang dan akhir-akhir ini kami suka ceng-cengin (godain) dia karena akhirnya dia menuju dunia asmara (sakjane wis suwi, cuma sayanya aja yang suka telat).

Kiki: perempuan yang suka menulis ini memenuhi janji seorang guru di SMA akhirnya, untuk menjadi seorang penulis. Saya lupa guru apa waktu itu, tapi saat itu, sang guru menantang seluruh muridnya untuk memenuhi target atau keingingannya dalam 5 tahun dan kiki adalah salah satu murid tersebut. Darah penulis sendiri sudah mengalir karena kedua orang tuanya merupakan guru Bahasa Indonesia yang disegani. See, sampai-sampai tulisan saya untuk kiki menggunakan EYD dan sedikit aksen sastra di dalamnya (ceilah). Cewek berbintang aries yang identik dengan keras kepalanya ini suka banget ngasih advice tentang dunia percintaan, panjang lebar.

Arman: sahabat kental sejak masih SD ini gayanya kalem-kalem heboh juga. Tapi hati-hati, kalau dia udah diam, dia bisa menyimpan banyak hal yang ia ingin muncratkan sebenarnya. Cowok yang senang banget sama Lady Gaga dan passionnya di dunia fashion ini juga suka loh kasih advice yang nggak kalah kecenya (yang kadang-kadang juga ditanggepi: “hmm, kan.. penyakitnya kumat”) dan satu lagi kalimat yang paling saya senangi kalau semuanya udah ketangkep basah pengen melakukan hal sesuatu ke dia atau hal yang nggak jelas di depannya: “iki ki do ngopo toh?? (ini pada ngapain sih??)”. Walau terkadang cerewet melebihi cerewetnya kami (para cewek) sebenarnya dialah perekat kami, saya akui itu man ;).

Momo: Cowok yang perhatian banget sama kita-kita ini kadang-kadang suka ngilang tiba-tba sehingga perhatiannya terhadap kami juga ikut ngilang sama raganya. Pembawaannya yang periang, membuat kami juga jadi senang. Tapi ya itu mo, kamu jangan suka tiba-tiba ngilang dong... kasih tahu lah kamu mau kemana, kali aja kan bisa titip oleh-oleh (lah). Jujur mo, kadang-kadang aku nggak bisa bedain saat kamu becanda atau serius, seperti kasusnya nyonyah dan kamu. Well, intinya, kalau nggak ada cowok ini, nggak ramai, titik.

                
Segitu saja tentang 6 warna yang sudah cukup mewarnai hidup saya selama 5 tahun ini. Ya, mereka ini termasuk dunia kecil namun berarti yang saya punyai saat ini. Maaf ya, saya ini paling yang susah diajak kumpul sama kalian, tapi percayalah, saya suka menyesal nggak bisa ikut kumpul sama kalian ketika kalian bisa ketemuan. Eniwei kalau penilaian tentang saya dari mereka, saya itu mellow-drama, kadang suka ngungkit-ungkit masalah lama dan yang seharusnya sudah ditutup. Tapi, mereka cukup tabah mau dengerin celotehan saya kalau-kalau sudah buka buku lama, dan ingat banget nangis sesenggukan gara-gara masalah sepele di depan kalian, hahaha.. terimakasih, sudah mau menghadapi saya waktu itu, semoga nggak kapok dan selalu tetap menjadi diri kalian masing-masing, warna masing-masing. Selamat ulang tahun untuk kita semua!
Selamat malam. Lagi-lagi saya ngeposting hal yang kemungkinan tidak penting tapi bisa jadi pertimbangan*halah*. Malam ini nggak sengaja jadi curhat banyak sama kakak ipar. Pemicunya sederhana, karena saya nggak makan malam sepulang dari nge-date dan itu jadi bahan ece-ecean emak ke saya. Selain karena nggak makan malam, ya karena seharian pergi sama bangbang. Kebetulan kakak ipar saya ada disitu, dan terciptalah suasana untuk 'bertukar pikiran' dalam hal berpacaran setelah emak selesai makan dan masuk ke kamar.

Oh ya, kakak ipar saya ini menikah dengan abang saya bulan Mei tahun lalu. Oh tidak, dia tidak seumuran atau setahun-dua tahun dibawah abang saya, tapi umurnya tidak jauh dari saya. Kami hanya selisih satu tahunan *fyi: abang saya kelahiran 1984, sedangkan kakak ipar saya kelahiran tahun 1990*. Jadi intinya, dia sudah menikah diumur yang saya jalani sekarang.

Awalnya, kakak ipar saya menunggu emak untuk masuk ke kamar dan berbicara ke saya,
"Maaf loh, bukan niatnya ngajarin jelek, tapi ya ini cukup jelek sih." 
Aku tertawa kecil dan bertanya lanjutannya. Kakak ipar saya bilang tidak seharusnya saya ngomong ke emak kalau belum makan malam padahal sudah seharian pergi sama bangbang. Saya terkekeh, dan menjawab kalau saya kelewat jujur kalau sudah sama emak. Kakak ipar membenarkan dan menyetujui kalau masih bisa terbuka dengan emak apalagi masalah begini, tapi ada kalanya harus bisa mengerem apa yang harusnya tidak dikatakan. 
"Bilang aja kamu udah ditawarin makan tapi kamu pengennya makan dirumah." 
Saya tertegun dan tersenyum. "Mbak, aku sebenarnya tadi ditawarin makan, tapi makannya itu delivery tapi nggak dateng-dateng. Baru dateng ya pas kami udah siap-siap mau pulang dan udah bilang ke bangbang mending makan dulu, tapi dia bilang 'nanti kemaleman',yaudah.. nggak makan deh." 
Kakak ipar saya cuma ber-oooh sambil menyendokkan makanannya. 
"Nah, kan kamu bisa terbuka sama emak. Kalau ada kesempatan ngomong sama emak, kamu tanyain deh emak setuju nggak sama bangbang". 
Saya cuma cengangas cengenges karena mendengar wejangan itu dari kakak ipar.
"Kalau kamu jalan terus tapi emak nggak setuju, kayak mbak nih ya sama mantan mbak sebelum abangmu, isinya tengkaran mulu." Lanjutnya yang bikin saya tambah cengenges untung gak sampe ngeces orz.
"(Almh.) Ibu mbak tuh nggak secara langsung bilang nggak suka sama mantan mbak yang dulu itu. Biasanya cerita dulu ke sepupu mbak yang dekat sama ibu, baru mbak tau dari sepupu mbak itu." Saya cuma angguk-angguk. 
"Eh, sekalinya sama abangmu, ibu mbak ngomong setuju langsung, yah walau sama sepupu mbak lagi sih." Saya tertawa. 
"Jadi ta, mending tanya emak aja, setuju apa nda." Ulangnya. Saya bilang, kalau menurut saya, emak saya sendiri itu orangnya bebas bertanggungjawab, tapi bingungan. Kenapa? Pernah suatu kali saya tanya ke beliau kalau saya bubaran dengan bangbang gimana, emak bilang jangan. Lalu pernah beliau bilang jangan menikah sebelum sekolah selesai, tapi sekarang tanya-tanya kapan hal itu akan terjadi. Dan yang terakhir saya dengar untuk saat ini, beliau bilang sudahan saja karena bangbang tidak menghubungi saya sama sekali 12 hari lamanya*walah*.
"Ya kamu karena cinta sama dia." Balas kakak ipar. "Cinta itu buta," 
"Dan tuli" Lanjut saya. Dia tertawa. 
"Iya bener banget. Temen mbak ada tuh, pacarannya ngeri, kalau udah marah pacarnya diumpat dengan kata-kata binatang*saya nda nyebutin ya :3*. Dorong-dorongan, jitak-jitakan, aneh lah, tapi sekarang sudah putus sih dan temen mbak jadian sama sepupu jauhnya." Dan saya angguk-angguk lagi. Kata kakak ipar saya, ada juga yang temannya mau aja balikan padahal sudah diselingkuhi dan malah keluarganya yang (maaf) menengah bawah itu dihujat oleh cowok temannya kakak ipar itu.

-----
"Kalau kamu ngerasa sakit terlalu ngilu/ngoyo, apalagi kayak kemarin-kemarin, mending yah...udahin aja," Lanjut kakak ipar saya yang bentar lagi melahirkan anak pertamanya ini. Saya cuma cengenges lagi,
"Yah mbak, sebenarnya bukan satu atau dua kali kami kayak begini kok, tapi kalau yang lebih dari seminggu ini ya baru kemarin itu."
Saya ngejelasin ke kakak ipar ada beberapa alasan kenapa sampai lanjut tuh "perang" sampai 12 hari *eaaa*.
"Tapi dia tuh kenal kamu nggak seminggu dua minggu," Balas kakak ipar. Saya mengiyakan dan itu sudah saya sampaikan ke bangbang lusa kemarin.
"Ya, tresna jalaran saka kulina sih mbak, ya kan?" Dan kakak iparpun senyam-senyum.
"Haha, iya juga. Yah, itu kan kamu yang jalanin. Jadi, kalau kata orang, dinikmati aja."

------
"Yang penting kamu berdoa. Doa sederhana yang udah banyak orang lakuin, Kalau jodoh didekatkan, kalau bukan jodoh..."
"Apapun caranya tolong jadikan jodoh saya." Saya memutus kalimat itu dan kakak iparpun ngakak.
"Huss, bukan... ya dijauhkan lah. Semaksa-maksanya kamu ingin sama orang yang kamu cintai, kalau tidak jodoh, ada aja hal nggak enak yang terjadi." Saya cuma garuk-garuk kepala sambil manyun.
"Buktinya abangmu pacaran 9tahunan sama mantannya juga nggak jadi."
"Abangku polos mbak,"
"Abangmu baru sadar kalau dia terlalu cuek,akhirnya diselingkuhi,"
"Biasanya kalau sudah ada kejadian nggak enak, orang baru sadar dan nggak ngelakuin kesalahan yang sama mbak."
"Haha, iya."
"Tapi sifat cowok pasti ada yang nularin ke ceweknya. Ya gaya ngomong, sikap."
"Iya e, aku ketularan abangmu suka nge-game."
"Haha."

------
"Mbak nyesel kok jadi orang yang pulang karaoke jam 2 pagi, dan hal-hal nakal lainnya yang diajarin sama sepupu mbak, sebelum ketemu abangmu dan seumuran kamu." 
"Kenapa?"
"Yah kalau tau akhirnya bahagia sama abangmu kayak sekarang ini, tau kalo itu salah, mending nggak usah dilakuin."
"Ya kan udah lewat, lebih enak kan. Daripada baru dilakuin sekarang?"
"Iya juga sih. Mbak sempet ngikutin jalan pikiran orang yang bilang nakallah kamu sebelum terlambat, karena hidup cuma sekali."
Dalam hati saya, jalan pikiran itu ada benarnya, tapi kakak iparku langsung menyangkal itu sama sekali nggak benar karena diajarin abang saya. *abang saya ngajarin apa sih =='*

------
"Kamu sudah harus mantepin hati lo."
"Kenapa mbak?"
"Ya maksimal wanita itu menikah umur 25, kalo lewat dari itu, kebablasan ntar."
"Oh ya? Berarti orang-orang barat sana kelewatan banget dong mbak?"
"Tapi kan mereka awet muda *diem sesaat dan saya nyaut "nggak"*, eh iya ding, nggak awet muda"
"Haha. Ini mungkin karena pergaulan sih mbak, wanita-wanita di Jepang sana menikahpun bukan urutan pertama, tapi ya perlu diinget, itu karena gaya hidup negara maju. Kalau mau melahirkan anak disana katanya dibayarin pemerintah untuk biaya kehidupan si bayi."
"Lah kenapa?"
"Ya karena gaya hidup wanita sana mbak."
"Karir kan?"
"Iyuu~"
"Makanya itu, kamu jangan terlalu mikir untuk karir.."
"Saya nda mau karir begitu mbak, saya pengen ngajar."
Kakak ipar saya terdiam sesaat dan bilang kalau temannya yang anak sastra pun lulus kuliah langsung mengajar di salah satu SMA.
"Jangan lama-lamalah pokoknya." Tekannya.

------

Dan beberapa percakapan yang tidak perlu diumbar secara keterlaluan disini. Intinya sih, Curhat dengan orang yang sudah nikah tapi umurnya nggak jauh-jauh dari saya itu, lumayan nyentil hati. Yah, emang dari dasar prinsip saya sama kakak ipar saya sendiri sudah beda, dia semenjak sekolah menengah bawah ingin menikah muda. Sedangkan saya? Saya ini orangnya ngikutin arus, Kalau pihak sana diem saya ikut diem, sana minta maaf saya maafkan. Masalah pernikahan itu saya bilang tabu untuk diri saya sendiri, karena menurut saya, hal itu memang ada dan tercetus dipikiran tapi belum merasa itu prioritas.
Saya belum KKN dan Skripsi. Alasan Klasik? Memang, tapi saya sadar diri saya itu masih banyak kurang, banyak nyangkal keadaan dimana-mana karena 'cinta'. Yah, kalau memang jodoh dekatkanlah, kalau memang bukan...untuk saat ini dinikmati dan dijalani aja dululah, mumpung ada mumpung punya :3.
Hai, selamat malam. Pernah curhat sama orang tua terutama sama ibu? Yap, itulah yang saya lakukan ketika saya memang lagi butuh seseorang yang makan garamnya udah banyak sampai-sampai bisa bikin laut sendiri. Ada yang bilang kalau curhat sama orang tua itu bikin takut dan malu, apalagi curhat masalah pribadi, tentang pacar misalnya *ampuni saya para galau-ers, ini saya ngepost ini juga gek galau kok :v*. Kalau saya pribadi,itu memang benar kok, awalnya bikin malu dan takut kalau-kalau malah dimarahin atau malah diejek-ejek. Alhamdulillah, ibu saya belum pernah seperti itu waktu saya curhat sama beliau selama ini, apalagi masalah pribadi, terutama masalah kisah kasih uhuk-uhuk alias masalah tentang perpacaran.

Sedikit narasi tentang ibu saya yang berbeda pendapat mengenai 'pacaran' dengan alm. ayah saya. Ibu saya oke-oke saja asal bertanggung jawab sedangkan ayah saya "kamu pacaran = pacar kamu ayah tempeleng" ヽ(  ̄д ̄;)ノ. Maafkan anakmu ini yah, sebenarnya waktu SMA (SD dan SMP pernah sih, tapi sekip ajalah ceritanya XD) saya pernah "nyolong waktu" untuk berpacaran, dan itu hanya bertahan selama seminggu saja. A lot of things kok dan memang salah satunya larangan alm. Ayah saya untuk tidak berpacaran dulu tetap tidak bisa saya tolak. Namanya anak sekolah*walah malah kayak lagunya Chrisye XD* kami..ehm, saya putuskan kami tidak jalan lagi. Dalam jangka seminggu itu saya pernah bertanya ke ibu saya yang kebetulan juga ada alm. Ayah saya "boleh tidak aku pacaran" ibu saya diam hingga akhirnya menyetujui pernyataan ayah saya yang cukup nyelekit "apa-apaan, masih kecil sudah pacaran, mana pacar kamu? ayah tempeleng" auch.. daripada si cowok malah beneran kena tuh bogem, saya akhirnya memilih 'jalan' tersebut.
Sekitar yah satu tahunan lah setelah peristiwa itu, teman-teman SMA ngajakin main ke pantai dan kebetulan mengajak saya dan si cowok itu. Karena waktu itu saya belum ada kendaraan pribadi dan bingung mau naik apa pengennya sih naga tapi nggak memungkinkan :p, dan--entahlah ini saya sebut untung atau tidak, saya punya teman-teman yang memberi sugesti untuk meminta tumpangan dengan si cowok. Hem, it's not a bad idea at all, dan si cowok itupun juga tidak ada masalah buat menjemput saya, dan berangkatlah kami. Eits, apa komentar dari orang tua saya? Saya jadi teringat wajah alm. Ayah saya waktu saya dijemput cowok itu: curiga, tegang dan khawatir. Selalu bertanya mau kemana, nanti pulang jam berapa, sama siapa aja, nggak berdua aja kan, dan pertanyaan-pertanyaan menjurus lainnya. Ibu saya, cuma melihat dan bilang "hati-hati, nda usah ngebut-ngebut" kepada cowok itu.
Selang sebulanan, seperti biasa waktu itu saya selalu diantar oleh ibu saya ke sekolah dan ada pertanyaan yang nyentil "kamu udah punya pacar belum?" dan muncratlah keluarlah itu cerocos mengenai cowok yang menjemput saya. Komentar ibu saya? "Loh, kok putus? Padahal lumayan caem juga" Ahelah emak, kemarin-kemarin setuju sama pernyataan ayah, ini kok malah jadi beda haluan.. #gedekgedekkepala. "Sakjane, mamak nda masalah kamu pacaran, tapi ya bertanggungjawab, ini kan negara demokrasi" Lanjutnya. Wejangan pertama mengenai pacaran yang cukup ngena.

Semenjak ayah tiada, keadaan timpang dimana-dimana. Ya keluarga, ya kerabat, ya sekolah, ya diri sendiri. Ngehadapin kalau beliau itu udah nggak ada, antara pengen move on tapi masih kelingan sing mbiyen-mbiyen. Tapi melihat emak *oke sekarang 'ibu saya' diganti emak aja XD* yang kelihatannya masih tidak terima, mencoba untuk menjadi emak yang biasa lagi. Sikap emak yang seperti itulah yang sampai sekarang menjadi panutan bagi saya. Tentang Seseorang yang sekarang ini, emak tahu kalau saya butuh seseorang, emak sekali lagi tetap menyebut "bebas bertanggungjawab"
Saya nggak mau nyebut merk, takut pamali kalau kata orang Sunda. Pamali karena saya dan dia belum bisa berkomunikasi dengan baik beberapa hari ini*ternyata saya masih orang kuno! haha*. Maka dari itu saya butuh emak saya sebagai tempat curahan hati pagi tadi. Dari sekian banyak wejangan yang diberikan dari teman-teman, saya pilih wejangan emak. Wejangan emak sederhana, nggak njelimet tapi bikin kepikiran*nah loh*. Emak memberi banyak pernyataan-pernyataan yang cukup mengejutkan mengenai hal pacaran saya. Kalau untuk pernyataan itu mending disimpen diri sendiri dan emak dan Allah SWT saja yang tahu *dan kuping-kuping yang kepo yang kedapetan ceritanya :p*, saya cuma kepengen ngumbar wejangan emak saya

"Kamu itu cewek, cukup memilih tapi bukan asal pilih. Cuma nunggu tapi tidak selamanya harus menunggu. Kamu boleh memilih cowok yang kamu senangi, tapi apa dia benar-benar sudah yakin bisa me-manage dirinya sendiri untuk masa depan? Umur-umur segitu dia sudah bisa menetapkan dan memantapkan dirinya harus bagaimana, untuk apa dan siapa."

Jadi?