Karena kita hanya manusia, yang tiba-tiba merasa lapar dan haus dan siap mengonsumsi makanan atau minuman apa saja dan terkadang lupa atau bahkan sengaja melupakan bahwa itu bisa berbahaya bagi tubuh kita

Karena kita hanya manusia, yang terkadang kurang sadar atau bahkan sengaja berpura-pura tidak sadar bahwa sikap, perlakuan, perkataan dan kebiasaan dapat merusak sekitar kita, entah secara fisik atau perasaan sesama.

Karena kita hanya manusia, yang terkadang emosi atau bahkan sengaja meluapkan amarah hanya karena masalah sepele, misalnya? Pilih nomor 1 atau 2 di pesta demokrasi periode kali ini, yang membuat banyaknya putus tali pertemanan yang sudah dibangun lama. Padahal, terpilih atau tidak jagoanmu, tidak akan membuatmu langsung jadi kaya, atau menempatkanmu di jajaran orang teratas di pemerintahan dalam sekejap, semua itu ada prosesnya, nggak ada yang instan. Namun hal itu bisa membuatmu memiliki banyak musuh, dalam hitungan waktu yang singkat hanya karena, kamu, manusia yang mempertahankan ego, ngotot kalau jagoannya yang paling oke.

Karena kita hanya manusia, yang terkadang teledor atau bahkan sengaja menunda waktu untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan penting, dan akhirnya mengeluarkan jurus 1001 alasan mengapa tak selesai atau tidak dikerjakan sama sekali.

Karena kita hanya manusia, yang terkadang tidak memperhatikan atau bahkan sengaja tidak mendengar nasehat orang-orang yang peduli dengan kita.

Karena kita hanya manusia, yang terkadang merasa orang paling kesepian atau bahkan sengaja tidak melihat bahwa ada orang-orang sekitar yang memperhatikan kita.

Karena kita hanya manusia, yang terkadang suka galau, merasa orang yang paling menyedihkan atau bahkan sebenarnya sadar sepenuhnya kalau memang sengaja menenggelamkan diri terhadap masalah hatinya.

Karena kita hanya manusia, yang terkadang tidak jujur atau bahkan sengaja berbohong karena alasan demi kebaikan bersama. Padahal dalam hati berkata lain.

Karena kita hanya manusia, yang terkadang merasa butuh pencitraan atau bahkan sengaja menggunakan banyak topeng agar terlihat lebih baik di mata banyak orang.

Karena kita hanya manusia, yang terkadang merasa makhluk paling sempurna atau bahkan sengaja memamerkan kesempurnaannya itu dengan baju-baju yang terlihat belum selesai dijahit.

Karena kita hanya manusia, yang terkadang merasa paling pintar atau bahkan sengaja sok tahu tentang segala hal.

Karena aku hanya manusia, maka aku sengaja menulis ini.

Karena kamu hanya manusia, yang diantara kalian ada yang membatin, menyangkal atau mencemooh tulisan ini atau bahkan sengaja menutup mata untuk tidak membaca dan melarikan diri karena takut menerima kenyataan, bahwa aku dan kamu itu sama, hanya manusia yang bukan apa-apa di mata Tuhan.
Betulkah hari Selasa, minggu ini, tanpa sengaja kita bertemu di tempat percetakan umum—tanpa ada perjanjian sama sekali adalah sebuah kebetulan? Kau menghampiriku yang berpura-pura tidak melihatmu, padahal aku sadar sepenuhnya saat kamu masuk ke ruangan yang sama denganku, berpura-pura bahwa aku tidak menyadari keberadaanmu. Cukup aneh rasanya, seminggu setelah kita tidak bercakap-cakap dan dipertemukan secara kebetulan. Kaget, takut, sekaligus ada rasa senang yang aneh yang merambat karena “kebetulan” yang singkat itu.

Esoknya, kita bertemu, disengaja karena aku memintanya. Aku dan kamu, hari itu, “berjanji” untuk tidak akan banyak bertemu, banyak bercakap, dan menganggap ini adalah hari terakhir dan hari dikuncinya rasa yang kita simpan dan tak akan mengungkit-ungkitnya kembali. Kamu berkata akan mengubur perasaan itu dan aku hanya mendapatkan diriku menangis, karena itulah kenyataannya, itulah akhirnya. Dan aku meminta permintaan-permintaan terakhir yang rasanya tidak akan pernah didapati kemudian hari. Hari itu pula ditutup dengan banyak tawa dengan bermain dengan teman-teman satu rumahmu dan tetangga-tetangga kecilmu yang manis, dan malam ini sama seperti malam sebelumnya-sebelumnya selama setahun ini, ketika aku setelah mengantarmu pulang atau sehabis dari rumah kontrakanmu, kamu mengirim pesan singkat: "Sudah sampai rumah?" yang baru kubaca paginya.

Namun entah mengapa, ada komponen-komponen di dunia ini yang tidak terima akan kesepakatan hari itu. Karena kemarin, tanpa disengaja dan tanpa perjanjian, kembali kita bertemu, di ruangan yang kini tak sedingin tahun lalu, ruangan dimana dulu kaki-kaki besarmu yang kedinginan membungkus kaki-kakiku, meminta kehangatan. Aku mendapatimu sedang tertidur di salah satu sofa di sana, dan tanpa banyak pikir aku langsung duduk di sebelahmu yang membuatmu terbangun, diikuti wajahmu yang terpasang sedikit kaget. 

“Halo, sudah kelar ujiannya?” Ucapku membuka percakapan.

“Iya, nanti jam setengah 2 ujian lagi, cuma numpuk makalah” Jawabmu yang kuikuti anggukan kepalaku.

“Mau makan nggak?” Tiba-tiba kamu bertanya seperti itu, yang langsung aku saut anggukan kepala lebih cepat karena sadar belum makan sedari pagi dan waktu itu menunjukkan pukul setengah 12 siang. Kita melesat menggunakan motorku ke arah kampus, mengambil helmmu dan akhirnya kita makan siang, bersama.

“Kebetulan” hari itu benar-benar kita manfaatkan, melupakan perjanjian yang sehari sebelumnya kita buat. Setelah kamu selesai menumpuk tugas untuk ujianmu, kita melaju ke pameran di salah satu art gallery di daerah Krapyak.

“Ini sih cuma mengulang cerita setahun lalu” Ujarku. Dan kamu hanya terkikih pelan. Ya setahun yang lalu, aku menawari diri untuk menemanimu ke suatu acara yang mengusung tema yang menjadi passionmu selama ini dan terjadi kembali, hari ini dengan suasana yang sama, keadaan mendung kelam yang siap memuntahkan rintik-rintik air.

Perjalanan kita dilanjutkan ke salah satu cafe dimana kita dulu beberapa kali memiliki cerita disana, dan kita membuat satu cerita lagi di tempat yang sama, dan membicarakan hal-hal yang seharusnya kita kunci, yang tidak boleh kita buka kembali, dengan suasana yang masih sama hingga akhirnya rintik-rintik air itu jatuh dari atas langit gelap itu, membuat hal-hal tersebut terbuka begitu saja.

Seselesainya hujan, kita segera mencari tempat untuk beribadah dan setelahnya masih ingin melanjutkan manfaat “kebetulan” itu, sayangnya, ada satu kebetulan yang membuatmu sedih, dan matahari benar-benar sudah tenggelam yang memaksaku untuk menyudahi manfaat “kebetulan” hari ini pula. Hawa setelah hujan dan waktu menuju malam, membuat suhu di sekitar kita mendingin, dan aku kembali meminjam jaketmu, yang sehari sebelumnya kukembalikan padamu. Apakah ini juga kebetulan, agar aku bisa menemuimu lagi?

Kejadian-kejadian beberapa hari di minggu ini hanya mengingatkanku pada tahun lalu. Masih ingat kah kejadian setahun yang lalu? Di ruangan yang sangat-tidak-terkenal-sama sekali dikalangan mahasiswa di kampus kita itu—dan bahkan aku pun sendiri sekarang sudah tidak mengenal sama sekali ruangan itu, bermula dari kejadian 5 hari, dan cerita kita mulai berkembang yang diwarnai banyak cerita, tawa, canda, sedih, suka, kecewa, kesal dan rasa lainnya. Mungkin ada beberapa komponen di dunia ini yang menginginkan kita untuk terus mengingat hal itu, dengan cara kebetulan-kebetulan yang muncul begitu saja. 

“Kata orang tidak ada yang kebetulan” Katamu dan aku juga cukup sering mendengar kalimat itu dari banyak orang yang kamu sebutkan itu. Ya, aku percaya di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan, semua sudah Ada yang mengatur, tinggal bagaimana kita melihat, mencerna,  dan... mensyukurinya.



PS: cerita ini teruntuk "Anonymous" yang dulu pernah menunggu kelanjutan ceritanya, I'll be waiting for you to read again my story and write some comment to this post.

Eniwei, Happy Fasting! Though is too fast a day, but, kita bentar lagi ketemu bulan Ramadhan yang di rindu-rindukan banyak insan Muslim di dunia ini! Selamat berpuasa dan mohon maaf jikalau ada kesalahan ya, mari kita berlomba-lomba cari pahala lagi di bulan puasa tahun ini, yei! \^^/
foto jaman jebot, adanya ini yang lengkap orz


Bulan Mei, tepatnya sebenernya saya nggak begitu hapal, tapi salah satu diantara kami berkata pada tanggal 11, ya kemarin. Saya selalu berjanji pada diri sendiri akan memposting ketika kami merayakan hari jadi kami, DMALIKAM.

AWAL KATA D’MALIKAM
Berawal dari kami, berlima, saya (Mala), Ajeng, Lia, Icha dan Kiki menjadi salah satu tim dalam sebuah perlombaan majalah dinding ketika kami masih SMA, tepatnya masih kelas 2 SMA. Ketika semua nama-nama tim mading dari sekolah lain menggunakan kata dengan filosofi yang berbelit, kami hanya memilih satu kata, MALIK dengan menambahkan huruf D di depannya (ceritanya sih biar kece ala band Maliq & D'essentials, mwahahaha) yang tak lain adalah singkatan dari nama-nama kami, sesederhana itu kami memilih nama dan Alhamdulillah-nya masih bisa meraih jajaran 3 besar kala itu ;)
Selang beberapa waktu, Arman bergabung bersama kami. Awal tepatnya dia bergabung saya sudah lupa, tapi yang jelas Arman ini selalu kami ajak buat main bareng dan untungnya dia mau-mau aja, hehe. Dan kebetulan pula Arman ini teman saya sedari kami masih SD (jadi mudah ngehasut dia buat main bareng, bweek :p), dan nggak lama Arman bergabung, Momo juga ikut (tepatnya kami seret) bersama kami, dan well... jadilah D’MALIKAM, sebuah kumpulan warna sedari SMA hingga hampir menuju dunia kerja (tssaaahh).

AWAL KATA “TETECE” DAN “GUMIES”
Nah, kalo kata TETECE itu juga singkatan yang sederhana juga yang dikarang sama Arman (anak satu ini emang paling jago kalo bikin istilah btw :p). Kepanjangannya Tenguk-Tenguk Crito. Tenguk-tenguk itu sebenarnya dari bahasa Jawa yang kalau saya cek di internet (si Empu istilah belum balas waktu saya ketik ini, hahaha) mendekati kata nongkrong, tapi kalau yang punya artikelnya (kalian bisa cek disini) bilang lebih ke aktivitas hanya duduk, domblong (bengong), lirik sana-sini. Tapi kalau dari Arman beda, maksudnya ya duduk-duduk cerita, alias, kami kumpul, duduk disuatu tempat (apapun tempatnya itu, yang nggak elit sekalipun semacam pinggiran nol kilometer atau angkringan tugu sudah cukup) dan bercerita, macam-macam. Dari curhat pacar, sekolah/kuliah, ujian, teman sekampus, musuh, bahkan sampai gojeg kere (becandaan nggak mutu) pun kami suarakan. Membuang waktu? Memang, tapi kami puas, karena semenjak kami tidak satu sekolah, terpisah, banyak kegiatan di waktu dan tempat yang berbeda, membuat kami sulit untuk bertemu. Dan itulah momen berharga kami, ketemu, ngobrol nggak karuan, kesana kemari.
Nah kalo GUMIES sendiri sebenarnya saya buat karena mau membuat grup di FB, karena saking jarangnya kami bertemu. Sayangnya sekarang udah nggak begitu aktif, karena sudah pindah kandang ke LINE, lebih praktis dan mudah dicek. GUMIES sendiri itu dari kata GUMI, yang saya ambil secara ngasal dari bahasa Jepang, dari kata bangumi yang berarti program TV, hahaha, nggak nyambung memang, tapi kalau ditilik, program TV itu banyak ragamnya yang disampaikan, begitu pula kami, ketemu, banyak hal yang bisa kami bicarakan, kami utarakan.

US!
Bicara tentang kami, kami ini satu sama lain sifatnya beda-beda. Suka debat, tapi baikannya juga cepat. Sebenarnya hal tentang orang-orang di dalam D’MALIKAM sudah pernah diposting sama Arman di blognya, tapi itu dari pandangannya. Nah sekarang, dari saya yak ceman-ceman :p

Ajeng: wanita (atau masih gadis? ah sudahlah :v) satu ini adalah manusia pertama diantara kami yang sudah lulus pendadaran dan tinggal nunggu wisuda (dan juga dilamar kekasih, ihir!). Ajeng itu orangnya tipe-tipe tsundere kalau istilah Jepangnya, keras tapi sebenarnya niatnya baik dan lembut (bweehh). Pertama kali kenal dengan Ajeng, saya selalu berpikir bakal nggak cocok sama orang ini (aku jujur jeng, jujur!) karena watak teguh dan sedikit ngototnya itu (dulu kok jeng, dulu, sekarang sih masih, tapi sudah cukup terkontrol *slapped*), tapi saya suka loh curhat tentang pacar sama ajeng. Advice-nya bisa dibilang “bener juga, ya”. Jadi kalau ngobrol sama dia isi utamanya adalah satu: curhat tentang laki.

Lia: cewek gahol satu ini nasibnya mirip-mirip sama saya, pernah pacaran sama lelaki yang punya hubungan sama kompie yang berujung kandas. Cewek yang supel tapi kalau ngomong kadang-kadang suka lupa di-filter ini adalah penyelamat waktu KKN saya dulu. Sampai sekarang barang-barang saya masih di rumahnya dia yang kebetulan cuma 10 menit dari tempat KKN (sori li, ASAP saya ambil wis). Kalau ngomong sama dia nggak jauh-jauh dari foto dan musik indie, betul begitu mbak Lia?

Icha: gadis murah hati dan tidak sombong tapi tiba-tiba suka heboh sendiri ini adalah yang paling muda diantara kami tapi termasuk jajaran yang udah kelar kuliahnya. Rumahnya yang kebetulan belakang SMA kami selalu jadi tempat nongkrong atau sekedar jadi tempat kumpul kalau kita mau ketemuan atau pergi ke suatu tempat. Sikap nyonyah (panggilan kami buat Icha) satu ini lebih suka jadi penengah ketika semuanya pada ribut. Ngobrol sama nyonyah nggak jauh-jauh dari kehidupan kerjanya dia sekarang dan akhir-akhir ini kami suka ceng-cengin (godain) dia karena akhirnya dia menuju dunia asmara (sakjane wis suwi, cuma sayanya aja yang suka telat).

Kiki: perempuan yang suka menulis ini memenuhi janji seorang guru di SMA akhirnya, untuk menjadi seorang penulis. Saya lupa guru apa waktu itu, tapi saat itu, sang guru menantang seluruh muridnya untuk memenuhi target atau keingingannya dalam 5 tahun dan kiki adalah salah satu murid tersebut. Darah penulis sendiri sudah mengalir karena kedua orang tuanya merupakan guru Bahasa Indonesia yang disegani. See, sampai-sampai tulisan saya untuk kiki menggunakan EYD dan sedikit aksen sastra di dalamnya (ceilah). Cewek berbintang aries yang identik dengan keras kepalanya ini suka banget ngasih advice tentang dunia percintaan, panjang lebar.

Arman: sahabat kental sejak masih SD ini gayanya kalem-kalem heboh juga. Tapi hati-hati, kalau dia udah diam, dia bisa menyimpan banyak hal yang ia ingin muncratkan sebenarnya. Cowok yang senang banget sama Lady Gaga dan passionnya di dunia fashion ini juga suka loh kasih advice yang nggak kalah kecenya (yang kadang-kadang juga ditanggepi: “hmm, kan.. penyakitnya kumat”) dan satu lagi kalimat yang paling saya senangi kalau semuanya udah ketangkep basah pengen melakukan hal sesuatu ke dia atau hal yang nggak jelas di depannya: “iki ki do ngopo toh?? (ini pada ngapain sih??)”. Walau terkadang cerewet melebihi cerewetnya kami (para cewek) sebenarnya dialah perekat kami, saya akui itu man ;).

Momo: Cowok yang perhatian banget sama kita-kita ini kadang-kadang suka ngilang tiba-tba sehingga perhatiannya terhadap kami juga ikut ngilang sama raganya. Pembawaannya yang periang, membuat kami juga jadi senang. Tapi ya itu mo, kamu jangan suka tiba-tiba ngilang dong... kasih tahu lah kamu mau kemana, kali aja kan bisa titip oleh-oleh (lah). Jujur mo, kadang-kadang aku nggak bisa bedain saat kamu becanda atau serius, seperti kasusnya nyonyah dan kamu. Well, intinya, kalau nggak ada cowok ini, nggak ramai, titik.

                
Segitu saja tentang 6 warna yang sudah cukup mewarnai hidup saya selama 5 tahun ini. Ya, mereka ini termasuk dunia kecil namun berarti yang saya punyai saat ini. Maaf ya, saya ini paling yang susah diajak kumpul sama kalian, tapi percayalah, saya suka menyesal nggak bisa ikut kumpul sama kalian ketika kalian bisa ketemuan. Eniwei kalau penilaian tentang saya dari mereka, saya itu mellow-drama, kadang suka ngungkit-ungkit masalah lama dan yang seharusnya sudah ditutup. Tapi, mereka cukup tabah mau dengerin celotehan saya kalau-kalau sudah buka buku lama, dan ingat banget nangis sesenggukan gara-gara masalah sepele di depan kalian, hahaha.. terimakasih, sudah mau menghadapi saya waktu itu, semoga nggak kapok dan selalu tetap menjadi diri kalian masing-masing, warna masing-masing. Selamat ulang tahun untuk kita semua!
*Shinnen Akimashite Omedetou!! 



YESSHH, IT'S 2014 NOW! Happy New Year all!! New year, new hope! Hope we always have a wonderful, great, and another unexpected experiences in this whole 2014! And I want to apologize that in last two months ago I didn't wrote anything in this blog, I've been busy with my reality life and I'm serious about that (LOL). 

Here's some fireworks pictures that I captured in 12 o'clock in our 1st January 2014. Enjoy!





Fireworks War... Unfortunately the left one.. cropped *cry*



My neighbors also enjoy the beauty fireworks night :)

Well, karena saya sudah males sok-sokan pake bahasa Engrish acak adut, mending saya menggunakan bahasa ibu tercinta saya, Bahasa Indonesia (halah). Jadi apa harapanmu untuk tahun 2014 ini? Sudah ada rencana? skripsi? lulus? atau malah menikah dan bekerja? hahaha, apapun harapanmu untuk tahun 2014, jangan lupa sertakan doa untuk setiap memulai harinya *tssaahh* So now.. time to go bed, and enjoy your new year, new life, new experiences! Ciao~
Tanggalan di Kalender Hijriyah di blog menunjukkan tanggal 10 Dzulhijjah 1434 H, Selamat Idul Adha teman-teman! Semoga arti "keikhlasan dalam berkorban" yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As selalu menyertai kita semua ya :), aamiin. Dan selamat juga untuk orangtua atau bahkan kamu sendiri yang sedang menunaikan ibadah haji \(^ ^)/

Iseng kali ini temanya Idul Adha, identik dengan sapi dan kambing yang telah disembelih dan siap di...bagikan kepada orang yang layak mendapatkannya :). Hehehe, tapi setelah itu, biasanya orang-orang bakal "nyate" untuk olahan dagingnya. 

Nah, selonya adalah.. keluarga saya (terutama abang ipar) punya ide untuk bikin sate klathak. Iya, sate yang pake jeruji sepeda itu akhirnya kami laksanakan tadi siang :v.

Sate Klathak ala rumah :p

Bumbunya? Nyontek dengan Sate Klathak yang ada di Bantul sana, campuran garam dan merica saja, kebetulan dirumah ada Mbok Yah yang emang asli dari Bantul juga, jadi rasanya nggak jauh-jauh amat dari yang aslinya :9.

Masih ada yang pake kayu, itu biar dibumbuin pake kecap :9

Keseloan abang ipar, beli jeruji sepeda karena disuruh emak atau emang juga penasaran pengen coba

Dan sekian laporan sengsel kali ini... mari kita tutup postingan ini dengan foto terakhir

siraman sambel kecap diatas sate klathak yang rancakbana~ へ(゜∇、°)へ

Sekali lagi Selamat Hari Raya Idul Adha teman-teman, hati-hati kolesterol, di kontrol ya makannya :p.
Hola, ketemu lagi di segmen iseng dan selo itu beda tipis :v. Kali ini selonya karena nggak ada kuliah dan isengnya lagi buka-buka tentang resep dan masak-memasak di internet #halah.

Lagi-lagi pengen banget bikin sesuatu buat.... ya buat membalas kebaikan sekaligus membunuh keseloan yang ada hari ini (`・ω・´)”. Bermodalkan dari bongkar membongkar logistik di rumah akhirnya menemukan ini di kulkas:

Tulip Chicken

Ada juga yang bilang ini drumstick chicken padahal ya beda :v. Daging beginian bisa banget kamu temukan di supermarket besar semacam carefour dengan harga antara 15-20ribuan rupiah.

Lalu mendapat ide dari gambar-gambar di internet daging ayam ini untuk digoreng tepung aja. Modal dari bongkar-bongkar logistik di rumah (lagi), menemukan beberapa bumbu untuk campuran tepung dasarnya:

1. Tepung Terigu; 2. Penyedap rasa (Masako); 3. Bubuk bawang putih; 4. Bubuk Pala; 5. Merica bubuk

Sebenarnya sudah banyak tepung-tepung bumbu yang dijual di pasar/supermarket/ minimarket/warung. Tapi namanya juga selo jadi saya bikin sendiri racikannya, perbandingannya:

2-4 sdm besar tepung terigu
1 sdt masako
1-1½ sdt bubuk bawang putih
1 sdt bubuk pala
1-2 sdt merica bubuk
1 sdt garam

racikan tepung ini bisa buat 10 potong chicken tulip :3

How to make it:

- kocok lepas 1 butir telur ayam
- siapkan piring dua lagi, satu untuk tepung roti/panir kayak gini:

merknya macem-macem, warna tepungnya juga ada yang agak keoranye-oreanyean kayak gini, yang putih juga ada :3
- satu piringnya lagi untuk tempat tirisan.
- celup ayam dengan urutan seperti ini: 

tepung dasar-telur-tepung dasar-telur-tepung roti/panir
jadinya kayak gini :3

- bungkus dengan plastic-warp dan masukkan ke freezer selama 5-10 menit. Akan lebih baik lagi di dalam freezer-nya selama 30 menit jika banyak waktu beneran selo pokoke ;).
- selagi nunggu tepung panirnya merekat, tumis sayur beku dengan bawang bombay dan goreng kentang :3.

sayur beku ala cafe-cafe nun resto itu loh :p

- selesai numis dan goreng kentang, keluarkan ayam tulip dari freezer dan goreng di atas api kecil agar matang di dalam dan nggak bikin gosong kulitnya (-^〇^-)
- tata di piring, kalau mau dihias-hias ala resto beneran juga boleh, dan, voila, ini versi saya:

tadaaaaa~~

eh itu apa yang diatas ayamnya? haha, itu campuran saus manis hasil racikan iseng dengan bahan-bahan seperti:

-saus tomat setengah botol kecil
-5 sdm saus inggris
-½ sdt penyedap rasa
-½ sdt garam
-½-1 sdt merica
-1-1½ sdm gula pasir
-1 sdm tepung maisena, larutkan dengan sedikit air 
-air secukupnya

cara membuatnya:
campur semua bahan kecuali larutan tepung maisena diatas api kecil, kalau sudah meletup-letup masukkan tepung maisena, aduk cepat dan rata hingga mengental, simpel ;).

sekian iseng dan selo itu beda tipis kali ini, salam sengsel ヽ(*・ω・)ノ
Tepat satu minggu lebih satu hari saya dan teman-teman kampus saya menikmati gelap, lembap dan panjangnya gua yang menghubungkan 2 kabupaten di DIY ini, Bantul dan Gunung Kidul. 


22 September 2013, (sekitar) 07.00 WIB

Kami bertujuh, saya, Winny, Wisnu, Tamam, Myke, Edi dan satu teman impor langsung dari Jepang, Norito berkumpul di bunderan UGM untuk berangkat bersama-sama menuju kabupaten Bantul, tepatnya di dusun Srunggo, Selopamioro, Imogiri, bantul. (sebenarnya sih sempat miskom tempat kumpul, wahahaha).

Berbekal pengetahuan minimalis tentang letak Gua Cerme (dimana kami mengira Wisnu tahu jalannya, eh ndilalah Wisnu ngiranya saya yang tahu jalannya, walhasil GPS pun digunakan orz*gagal jadi wong Jogja kabeh :v*), kami bertujuh dengan kendaraan motor seadanya, melaju santai menuju tujuan kami.

Syukur Alhamdulillah, ternyata petunjuk jalan Gua Cerme nggak pelit, bahkan dibilang mudah untuk mengantarkan kami ke sana. Sekitar 1-1,5 jam perjalanan lurus-kanan-kiri-naik-turun dan kami pun sampai ditempat~yeeeii~~

Keadaan Jalan Menuju Gua Cerme (Captured by: Winny WM)

Disambut dengan pemandangan seperti ini bersyukur banget sama yang Di Atas :">

Gua Cerme Rangers :v

Nah, Gua Cerme ini konon jadi tempat "base camp" (base camp yang seperti apa dan ngapain saya kurang begitu mengerti, maklum cuma dengar sekelumit dari Tamam yang tanya-tanya ke bapak2 guidenya :v) para Wali (Wali Sanga) yang ada di Jogja dan Jateng, salah satunya adalah Wali Sunan Kalijaga, hingga ada patung beliau sedang menunggangi kuda (sayang nggak terfoto, hiks) dan beberapa tulisan aksara Jawa menghiasi tangga yang ada disana (ini juga nggak saya foto, huwaaa).


Perjalanan kami dimulai dari Kabupaten Bantul. Dipandu oleh guide kami bernama pak Sagio dan ditambah dua teman lagi yang ikut rombongan kami, Dek Yaki dan Ayahnya. Yuk yuk tilik foto-foto yang sempat saya abadikan di dalamnya ya :">.



Daftar Rombongan :p

Guaception: ada gua di dalam gua, tapi sepertinya nggak sedalam kelihatannya, kelihatannya :|

Hati-hati ya, itu kalau kena tulang kering kalian cukup bikin kaki maha cenat cenut

Air terjun ini kudu dilewati agar bisa menuju jalan keluar

Tinggi air disini cukup beragam, dari yang cuma semata kaki hingga sedada orang dewasa +_+


Kami pikir putih-putih itu adalah salju, ternyata bukan, warnanya putih berkelap kelip, semacam ada serbuk gliter diatasnya, ntahlah itu zat apa, kemungkinan mineral (alamat jauh dari guide, nggak bisa banyak tanya T_T)


And.... finish!

お疲れ様!めっちゃ楽しかったね~

Akhirnya!

Our Guide: Pak Sagio

Sudah beda Kabupaten lho, ini di Gunung Kidul! ヽ(‘ ∇‘ )ノ

Jalan Pulang: Ini sama saja kita berjalan kembali dengan jarak gua yang kita tempuh tadi,  jadi total jalan yang kalian tempuh untuk berangkat-pulang kira-kira 2.4 km, cukup pak, ampun~! +_+

Kembali menemukan pemandangan yang bikin terus bersyukur dan menyadari nggak sia-sia kami jalan jauh :"> 
INI BAHAYA: Serius, jalan ini bahaya banget, dengar-dengar dari Bapaknya Dek Yaki kalau jalan ini sudah memakan korban jiwa, so... jalannya pelan-pelan aja, nggak usah pecicilan kayak anak-anak abege di belakang kami pekan lalu -__-

Sudah kembali lagi ditempat semula, yatta! ヽ(;▽;)ノ

Bersama Bapaknya Dek Yaki (dan sampai detik beliau pulang saya nggak tahu namanya orz), Dek Yaki-nya nda mau foto bareng saya sih T_T


Informasi, Tips dan Wejangan mengenai Gua Cerme:

Informasi Biaya:
-Biaya Masuk: Biaya masuk Gua Cerme terbagi menjadi 3: biaya konservasi untuk daerah Bantul seharga 3000 rupiah, biaya konservasi untuk daerah Gunung Kidul seharga 3000 rupiah pula dan biaya guide. 
-Biaya guide ini saya agak lupa, yang jelas bila rombongan kalian kurang dari 15 orang dikenakan biaya 40.000 rupiah per-kelompok/per-rombongan, jadi lebih baik bawa rombongan diatas 15 orang.
-Biaya Sewa Lampu Senter: ada dua jenis senter, senter biasa dan senter kepala. Harga keduanya sama 5000 rupiah.
-          Biaya Parkir: motor 2000 rupiah, mobil ±5000 rupiah.

Informasi Jalan:
-Akses jalan yang kami gunakan adalah melewati Terminal Giwangan. Lurus saja ke selatan sampai nanti menemukan banyak petunjuk jalan menuju Gua Cerme.
-Jalan dari Terminal Giwangan sampai Pasar Imogiri lempeng nan lurus, namun setelah itu sekitar 8km sebelum sampai Gua Cerme jalannya bakal naik turun macem BGMnya Ninja Hattori :|.
-Sedangkan jalan masuk Gua Cerme sendiri ada dua, yang melewati tangga (yang menjadi garis finish kami) atau dari sisi patung Sunan Kalijaga.

Tips dan Wejangan:
-Wajib dibawa: Baju ganti dan handuk sudah pasti. PLASTIK! Bagi kamu yang suka foto-foto dan tidak ounya watercase macam saya ini lebih baik bawa plastik cukup tebal dan besar (kalau kameranya besar ya), ini bakal sangat berguna.

-Optional:
  • Pakaian yang kamu gunakan untuk masuk lebih baik yang bebas gerak dan melindungi tubuh, celana training dan kaos lengan panjang misalnya. Untuk alas kaki lebih baik pakai sepatu karet atau boots karet kalau punya, karena jalan di Gua Cerme itu licin dan berlumpur, jangan kayak saya pakai sendal jepit, tidak baik untuk ditiru :p.
  •  Minuman dan Snack (kalau bisa yang hangat-hangat, sebenarnya banyak juga yang jualan mie cup dan wedang panas2), bolehlah :D.
-         -Barang-barang seperti tas bisa kamu titipkan ditempat kamu menyewa lampu senter.


Sekian, Gua Cerme kami tutup dengan makanan satu ini:

Mie Ayam Bakso dan Es Teh \(^ ^)/

Saa, selamat akhir bulan September teman-teman! Mari kita sambut Oktober yang tinggal 45 menit ini! fiuh... untung masih keburu posting