Sudah Hari Senin, selamat kuliah bagi yang telah masuk, seperti saya. Tapi saya nda bahas hari ini kok, saya bahas hari sabtu kemarin. Hari sabtu menjelang malem minggu itu biasanya sebagian besar yang sudah punya aa', eneng, abang, bebeb, atau sebutan-sebutan lainnya aka pacar pasti sudah merencanakan untuk pergi bareng, tentu saja saya tidak demikian, wakakakak.

Sabtu, 17 Februari 2013
Hari pertama untuk edisi magang Bulaksumur tahun ini. Bulaksumur alias BUL itu salah satu dari dua persma yang ada dibawah naungan Universitas Gadjah Mada. BUL ini edisinya macem-macem, salah satunya edisi magang, edisi yang murni dibuat oleh anak-anak magang BUL :3. Tahun ini lokasinya ada di sekitaran 0-km kota Yogyakarta. Selagi mereka hunting berita, info, foto, dkk, kami-kami yang selo mumpung senggang, keliling-keliling sendiri di lokasi tersebut, dari toko buku shopping sampai pasar Bringharjo.
Jalan-jalannya nggak sembarang jalan, kami bikin video bertajuk X-BUL, Ekspedisi Bulaksumur XD. Reporternya Chilmi dan Farhan sedangkan kameramennya si Adit.
Ini secuil dua cuil dari jalan-jalan selo kami :3

Dari pojok kiri atas sampe pojok kanan bawah: Farhan dan Chilmi lagi reportase; Cobain pipa suara; Cah X-BUL; Chilmi sama Farhan diboyong anak gaul buat foto bareng; ketika selesai dari Taman Pintar; Semacam foto di kaca WC mall-mall

Dari pojok kiri atas sampe pojok kiri bawah:  mengurus awak magang dulu; Balada Dawet; Pelukis jalanan; Carpenter Jr;Warna-warni 0-km Jogja

Hari sabtu yang satu ini menjadi hari penutup liburan yang cukup menyenangkan, salam X-BUL, Ekspedisi... Bulaksumur~
Yeeepp! Kumapan Pizza kali ini dibuat dengan bahan yang lebih manis tapi nggak jauh-jauh dari keju mozarella-nya. Sebenarnya resep topingnya "nyolong" punya emak, menggunakan susu kental manis, dan tentunya 2 keju utama: cheddar dan mozarella, tapi saya kreasikan lebih dengan menambahkan bubuk susu coklat (saya pake bubuk susu milo 3in1) dan buah-buahan seperti pisang dan apel :9. Kalau pizza sebelumnya tidak bertumpuk, kalau yang ini sengaja bertumpuk-tumpuk biar sekali panggang aja dan menambah nilai plus untuk menyingkat waktu :P.
Oh ya, manggangnya nggak selama kumapan pizza asin, ini cukup 5 menitan aja, karena milo dan susu kental manisnya cepat gosong dan...
Voila~

yang merah-merah itu selai stroberi yang dikasih abangku ==a

meanwhile in another layer :D


ini jadinya kalau pakai potongan pisang, yum!


Jadi, ada yang mau coba? :3
Malam ini Tadi malam sekitar jam 7 tanggal 8 kemaren*ya ampyun sudah selisih sehari aja >.<*, tiba-tiba habis bangun tidur yang 'cukup nyenyak' muncul kepengenan untuk masak sesuatu. Abang saya yang sudah nangkring di kamar saya buat nge-game bilang kalau tadi emak masak enak dengan keju mozarella. Tadinya kapan saya nggak tanya, yang jelas saya nggak kebagian(;へ:)

Katanya abang, emak cuma bikin toping sederhana, menggunakan roti tawar putih diolesi susu kental manis, keju mozarella, dan keju cedar parut lalu dipanaskan di oven sekitar 5-7 menit doang.

Nah, karena kadar imajinasi saya lagi tinggi *thankyou for the nap, God :D* saya mengembangkan kudapan ini jadi makanan yang sedikit lebih 'berat'.
Bahannya: 
3 lembar roti tawar putih kupas
2 lembar daging ham, potong memanjang
1/2 buah bawang bombay, potong dadu kecil-kecil
1 buah tomat, potong panjang *saya mah sesukanya XD*
keju mozarella, parut/potong, selera kamu XD
keju cedar, parut
merica
oregano

cara buatnya sederhana kok:
-Pertama potongan daging ham ditumis dengan mentega, setengah matang. 
-Bekas minyak/mentega dari tumisan daging ham jangan dibuang, untuk menumis bawang bombay. Tumis bawang bombay cepat, agar 'krenyes2'nya nggak begitu hilang :D
-tata roti tawar putih diatas piring anti panas, urutan topingnya: keju mozarella diparut diatas roti tawar putih(ini agar dia meleleh dan melengketkan toping diatasnya); lalu daging ham, atasnya lagi bawang bombay, atasnya lagi tomat; tutup dengan parutan/potongan kecil keju mozarella lagi agar lelehannya bikin, uuhh~; terakhir diatasnya parutan keju cedar, sedikit oregano dan merica.
-panaskan di oven sekitar 5-7 menit, dan...

Tadaa~, Bon Appetit!

Percobaan kedua, pake oregano dan merica diatasnya, Nyaa~mie!

Raihan dan KumapanPizza (´∇ノ`*)ノ

Gara-gara bikin beginian, abang, emak, dan kakak ipar saya suruh saya jualin... hmm, ada yang mau pesan? :9
4 Februari 2013, 01.30an WIB

Sepulang dari pergi main-main sama teman-teman d'malikam, bukannya langsung tidur saya malah online dari jam setengah 11 malam sampai tiba-tiba dipanggil oleh ibu saya sekitar jam setengah 2 dini hari. Ternyata, kakak ipar saya sudah kontraksi. Katanya saat itu rasanya ada yang mengalir, cepat-cepat, saya, emak, kakak ipar saya dan ponakan pertama saya pergi menuju RS. Sardjito. 

Dan Alhamdulillah, pukul 04.52 WIB tadi kakak ipar saya melahirkan secara normal anak pertamanya, namanya Allisya (。´∀`)ノ.

Beauty, isn't she?ヾ(´▽`)ゝ


Walau namanya Allisya *belum tau nama panjangnya siapa* panggilannya inong=='. Si inong ini lahir dengan berat 3.2kg dan panjang 47cm :3.
Semoga Allisya aka inong bisa jadi anak yang cantik, bersahabat, berbakti kepada ortunya, rajin menabung dan beribadah, aamiin...
Btw, ini keponakan saya yang ke-3 orz, tapi yang pertama untuk perempuan, yeah~

Bobo duyu~
"Halo, Ayah"

Father Kiss

Selamat malam. Lagi-lagi saya ngeposting hal yang kemungkinan tidak penting tapi bisa jadi pertimbangan*halah*. Malam ini nggak sengaja jadi curhat banyak sama kakak ipar. Pemicunya sederhana, karena saya nggak makan malam sepulang dari nge-date dan itu jadi bahan ece-ecean emak ke saya. Selain karena nggak makan malam, ya karena seharian pergi sama bangbang. Kebetulan kakak ipar saya ada disitu, dan terciptalah suasana untuk 'bertukar pikiran' dalam hal berpacaran setelah emak selesai makan dan masuk ke kamar.

Oh ya, kakak ipar saya ini menikah dengan abang saya bulan Mei tahun lalu. Oh tidak, dia tidak seumuran atau setahun-dua tahun dibawah abang saya, tapi umurnya tidak jauh dari saya. Kami hanya selisih satu tahunan *fyi: abang saya kelahiran 1984, sedangkan kakak ipar saya kelahiran tahun 1990*. Jadi intinya, dia sudah menikah diumur yang saya jalani sekarang.

Awalnya, kakak ipar saya menunggu emak untuk masuk ke kamar dan berbicara ke saya,
"Maaf loh, bukan niatnya ngajarin jelek, tapi ya ini cukup jelek sih." 
Aku tertawa kecil dan bertanya lanjutannya. Kakak ipar saya bilang tidak seharusnya saya ngomong ke emak kalau belum makan malam padahal sudah seharian pergi sama bangbang. Saya terkekeh, dan menjawab kalau saya kelewat jujur kalau sudah sama emak. Kakak ipar membenarkan dan menyetujui kalau masih bisa terbuka dengan emak apalagi masalah begini, tapi ada kalanya harus bisa mengerem apa yang harusnya tidak dikatakan. 
"Bilang aja kamu udah ditawarin makan tapi kamu pengennya makan dirumah." 
Saya tertegun dan tersenyum. "Mbak, aku sebenarnya tadi ditawarin makan, tapi makannya itu delivery tapi nggak dateng-dateng. Baru dateng ya pas kami udah siap-siap mau pulang dan udah bilang ke bangbang mending makan dulu, tapi dia bilang 'nanti kemaleman',yaudah.. nggak makan deh." 
Kakak ipar saya cuma ber-oooh sambil menyendokkan makanannya. 
"Nah, kan kamu bisa terbuka sama emak. Kalau ada kesempatan ngomong sama emak, kamu tanyain deh emak setuju nggak sama bangbang". 
Saya cuma cengangas cengenges karena mendengar wejangan itu dari kakak ipar.
"Kalau kamu jalan terus tapi emak nggak setuju, kayak mbak nih ya sama mantan mbak sebelum abangmu, isinya tengkaran mulu." Lanjutnya yang bikin saya tambah cengenges untung gak sampe ngeces orz.
"(Almh.) Ibu mbak tuh nggak secara langsung bilang nggak suka sama mantan mbak yang dulu itu. Biasanya cerita dulu ke sepupu mbak yang dekat sama ibu, baru mbak tau dari sepupu mbak itu." Saya cuma angguk-angguk. 
"Eh, sekalinya sama abangmu, ibu mbak ngomong setuju langsung, yah walau sama sepupu mbak lagi sih." Saya tertawa. 
"Jadi ta, mending tanya emak aja, setuju apa nda." Ulangnya. Saya bilang, kalau menurut saya, emak saya sendiri itu orangnya bebas bertanggungjawab, tapi bingungan. Kenapa? Pernah suatu kali saya tanya ke beliau kalau saya bubaran dengan bangbang gimana, emak bilang jangan. Lalu pernah beliau bilang jangan menikah sebelum sekolah selesai, tapi sekarang tanya-tanya kapan hal itu akan terjadi. Dan yang terakhir saya dengar untuk saat ini, beliau bilang sudahan saja karena bangbang tidak menghubungi saya sama sekali 12 hari lamanya*walah*.
"Ya kamu karena cinta sama dia." Balas kakak ipar. "Cinta itu buta," 
"Dan tuli" Lanjut saya. Dia tertawa. 
"Iya bener banget. Temen mbak ada tuh, pacarannya ngeri, kalau udah marah pacarnya diumpat dengan kata-kata binatang*saya nda nyebutin ya :3*. Dorong-dorongan, jitak-jitakan, aneh lah, tapi sekarang sudah putus sih dan temen mbak jadian sama sepupu jauhnya." Dan saya angguk-angguk lagi. Kata kakak ipar saya, ada juga yang temannya mau aja balikan padahal sudah diselingkuhi dan malah keluarganya yang (maaf) menengah bawah itu dihujat oleh cowok temannya kakak ipar itu.

-----
"Kalau kamu ngerasa sakit terlalu ngilu/ngoyo, apalagi kayak kemarin-kemarin, mending yah...udahin aja," Lanjut kakak ipar saya yang bentar lagi melahirkan anak pertamanya ini. Saya cuma cengenges lagi,
"Yah mbak, sebenarnya bukan satu atau dua kali kami kayak begini kok, tapi kalau yang lebih dari seminggu ini ya baru kemarin itu."
Saya ngejelasin ke kakak ipar ada beberapa alasan kenapa sampai lanjut tuh "perang" sampai 12 hari *eaaa*.
"Tapi dia tuh kenal kamu nggak seminggu dua minggu," Balas kakak ipar. Saya mengiyakan dan itu sudah saya sampaikan ke bangbang lusa kemarin.
"Ya, tresna jalaran saka kulina sih mbak, ya kan?" Dan kakak iparpun senyam-senyum.
"Haha, iya juga. Yah, itu kan kamu yang jalanin. Jadi, kalau kata orang, dinikmati aja."

------
"Yang penting kamu berdoa. Doa sederhana yang udah banyak orang lakuin, Kalau jodoh didekatkan, kalau bukan jodoh..."
"Apapun caranya tolong jadikan jodoh saya." Saya memutus kalimat itu dan kakak iparpun ngakak.
"Huss, bukan... ya dijauhkan lah. Semaksa-maksanya kamu ingin sama orang yang kamu cintai, kalau tidak jodoh, ada aja hal nggak enak yang terjadi." Saya cuma garuk-garuk kepala sambil manyun.
"Buktinya abangmu pacaran 9tahunan sama mantannya juga nggak jadi."
"Abangku polos mbak,"
"Abangmu baru sadar kalau dia terlalu cuek,akhirnya diselingkuhi,"
"Biasanya kalau sudah ada kejadian nggak enak, orang baru sadar dan nggak ngelakuin kesalahan yang sama mbak."
"Haha, iya."
"Tapi sifat cowok pasti ada yang nularin ke ceweknya. Ya gaya ngomong, sikap."
"Iya e, aku ketularan abangmu suka nge-game."
"Haha."

------
"Mbak nyesel kok jadi orang yang pulang karaoke jam 2 pagi, dan hal-hal nakal lainnya yang diajarin sama sepupu mbak, sebelum ketemu abangmu dan seumuran kamu." 
"Kenapa?"
"Yah kalau tau akhirnya bahagia sama abangmu kayak sekarang ini, tau kalo itu salah, mending nggak usah dilakuin."
"Ya kan udah lewat, lebih enak kan. Daripada baru dilakuin sekarang?"
"Iya juga sih. Mbak sempet ngikutin jalan pikiran orang yang bilang nakallah kamu sebelum terlambat, karena hidup cuma sekali."
Dalam hati saya, jalan pikiran itu ada benarnya, tapi kakak iparku langsung menyangkal itu sama sekali nggak benar karena diajarin abang saya. *abang saya ngajarin apa sih =='*

------
"Kamu sudah harus mantepin hati lo."
"Kenapa mbak?"
"Ya maksimal wanita itu menikah umur 25, kalo lewat dari itu, kebablasan ntar."
"Oh ya? Berarti orang-orang barat sana kelewatan banget dong mbak?"
"Tapi kan mereka awet muda *diem sesaat dan saya nyaut "nggak"*, eh iya ding, nggak awet muda"
"Haha. Ini mungkin karena pergaulan sih mbak, wanita-wanita di Jepang sana menikahpun bukan urutan pertama, tapi ya perlu diinget, itu karena gaya hidup negara maju. Kalau mau melahirkan anak disana katanya dibayarin pemerintah untuk biaya kehidupan si bayi."
"Lah kenapa?"
"Ya karena gaya hidup wanita sana mbak."
"Karir kan?"
"Iyuu~"
"Makanya itu, kamu jangan terlalu mikir untuk karir.."
"Saya nda mau karir begitu mbak, saya pengen ngajar."
Kakak ipar saya terdiam sesaat dan bilang kalau temannya yang anak sastra pun lulus kuliah langsung mengajar di salah satu SMA.
"Jangan lama-lamalah pokoknya." Tekannya.

------

Dan beberapa percakapan yang tidak perlu diumbar secara keterlaluan disini. Intinya sih, Curhat dengan orang yang sudah nikah tapi umurnya nggak jauh-jauh dari saya itu, lumayan nyentil hati. Yah, emang dari dasar prinsip saya sama kakak ipar saya sendiri sudah beda, dia semenjak sekolah menengah bawah ingin menikah muda. Sedangkan saya? Saya ini orangnya ngikutin arus, Kalau pihak sana diem saya ikut diem, sana minta maaf saya maafkan. Masalah pernikahan itu saya bilang tabu untuk diri saya sendiri, karena menurut saya, hal itu memang ada dan tercetus dipikiran tapi belum merasa itu prioritas.
Saya belum KKN dan Skripsi. Alasan Klasik? Memang, tapi saya sadar diri saya itu masih banyak kurang, banyak nyangkal keadaan dimana-mana karena 'cinta'. Yah, kalau memang jodoh dekatkanlah, kalau memang bukan...untuk saat ini dinikmati dan dijalani aja dululah, mumpung ada mumpung punya :3.
25 Januari 2013

Pagi-pagi lihat handphone udah ada 3 sms yang betengger dipojok kiri atas di layarnya. Salah satunya ajakan senpai (senior) buat main ke pantai. Karena libur yang benar-benar selo, saya pun langsung membalas mengiyakan ajakannya :3. "Ajakin yang lain, ya" balasnya. Karena sudah banyak yang pulang dan kemungkinan sibuk juga, walhasil yang kecantol cuma 1 orang yang bisa saya ajakin(;へ:)
Jam setengah 2 kami pun bersiap-siap dari kampus untuk berangkat. Siasat untuk nyulik satu teman apalagi dengan ber-gender wanita ternyata tidak berhasil. Akhirnya, karena yang selo cuma ber-5, dan itu lelaki semua *yeah, saya juga diitung lelaki juga, kampreeet* kami pun berangkat ke pantai yang memakan waktu sekitar 1,5-2 jam tersebut. 

biangnya rencana ke pantai, bang nopal :v

Pantai Glagah, pantai yang terkenal dengan pemecah ombaknya dan berpasir hitam ini letaknya di Kabupaten Kulon Progo. Akses jalannya pun tidak se-ekstrim kalau ke daerah wisata di Kabupaten Gunung Kidul. Jalannya lempeng lurus dan bikin ngantuk ( ̄ω ̄;). Karena pengunjungnya sedikit*karena bukan masa libur sih, ehe*, maka tempat wisata ini sepi. Madesu (aka masa depan suram) itu cuma tambah-tambahannya senpai yang ngajakin saya kesini*katanya sih saking sepinya itu, padahal ya pengunjungnya cukup banyak setelah setengah jam kami sampai disini*, aslinya sih seru-seru aja, karena ada semacam jalan untuk menantang ombaknya yang besar!(ノ>▽<。)ノ

Salah dua sisi pemecah ombak yang ada di Pantai Glagah


Ranger Ombak XD












Hati-hati, jalannya yang menjorok ke laut langsung itu udah retak-retak sakjane
ヽ(゚Д゚)ノ


Pasir hitam.. *but edited :p*


Sayangnya cuaca cerah nggak bertahan lama hari itu, sekitar jam 5 sore sudah dihadang hujan sampai kami pulang ke kampus.. sedih tenan (。┰ω┰。)
Hai, selamat malam. Pernah curhat sama orang tua terutama sama ibu? Yap, itulah yang saya lakukan ketika saya memang lagi butuh seseorang yang makan garamnya udah banyak sampai-sampai bisa bikin laut sendiri. Ada yang bilang kalau curhat sama orang tua itu bikin takut dan malu, apalagi curhat masalah pribadi, tentang pacar misalnya *ampuni saya para galau-ers, ini saya ngepost ini juga gek galau kok :v*. Kalau saya pribadi,itu memang benar kok, awalnya bikin malu dan takut kalau-kalau malah dimarahin atau malah diejek-ejek. Alhamdulillah, ibu saya belum pernah seperti itu waktu saya curhat sama beliau selama ini, apalagi masalah pribadi, terutama masalah kisah kasih uhuk-uhuk alias masalah tentang perpacaran.

Sedikit narasi tentang ibu saya yang berbeda pendapat mengenai 'pacaran' dengan alm. ayah saya. Ibu saya oke-oke saja asal bertanggung jawab sedangkan ayah saya "kamu pacaran = pacar kamu ayah tempeleng" ヽ(  ̄д ̄;)ノ. Maafkan anakmu ini yah, sebenarnya waktu SMA (SD dan SMP pernah sih, tapi sekip ajalah ceritanya XD) saya pernah "nyolong waktu" untuk berpacaran, dan itu hanya bertahan selama seminggu saja. A lot of things kok dan memang salah satunya larangan alm. Ayah saya untuk tidak berpacaran dulu tetap tidak bisa saya tolak. Namanya anak sekolah*walah malah kayak lagunya Chrisye XD* kami..ehm, saya putuskan kami tidak jalan lagi. Dalam jangka seminggu itu saya pernah bertanya ke ibu saya yang kebetulan juga ada alm. Ayah saya "boleh tidak aku pacaran" ibu saya diam hingga akhirnya menyetujui pernyataan ayah saya yang cukup nyelekit "apa-apaan, masih kecil sudah pacaran, mana pacar kamu? ayah tempeleng" auch.. daripada si cowok malah beneran kena tuh bogem, saya akhirnya memilih 'jalan' tersebut.
Sekitar yah satu tahunan lah setelah peristiwa itu, teman-teman SMA ngajakin main ke pantai dan kebetulan mengajak saya dan si cowok itu. Karena waktu itu saya belum ada kendaraan pribadi dan bingung mau naik apa pengennya sih naga tapi nggak memungkinkan :p, dan--entahlah ini saya sebut untung atau tidak, saya punya teman-teman yang memberi sugesti untuk meminta tumpangan dengan si cowok. Hem, it's not a bad idea at all, dan si cowok itupun juga tidak ada masalah buat menjemput saya, dan berangkatlah kami. Eits, apa komentar dari orang tua saya? Saya jadi teringat wajah alm. Ayah saya waktu saya dijemput cowok itu: curiga, tegang dan khawatir. Selalu bertanya mau kemana, nanti pulang jam berapa, sama siapa aja, nggak berdua aja kan, dan pertanyaan-pertanyaan menjurus lainnya. Ibu saya, cuma melihat dan bilang "hati-hati, nda usah ngebut-ngebut" kepada cowok itu.
Selang sebulanan, seperti biasa waktu itu saya selalu diantar oleh ibu saya ke sekolah dan ada pertanyaan yang nyentil "kamu udah punya pacar belum?" dan muncratlah keluarlah itu cerocos mengenai cowok yang menjemput saya. Komentar ibu saya? "Loh, kok putus? Padahal lumayan caem juga" Ahelah emak, kemarin-kemarin setuju sama pernyataan ayah, ini kok malah jadi beda haluan.. #gedekgedekkepala. "Sakjane, mamak nda masalah kamu pacaran, tapi ya bertanggungjawab, ini kan negara demokrasi" Lanjutnya. Wejangan pertama mengenai pacaran yang cukup ngena.

Semenjak ayah tiada, keadaan timpang dimana-dimana. Ya keluarga, ya kerabat, ya sekolah, ya diri sendiri. Ngehadapin kalau beliau itu udah nggak ada, antara pengen move on tapi masih kelingan sing mbiyen-mbiyen. Tapi melihat emak *oke sekarang 'ibu saya' diganti emak aja XD* yang kelihatannya masih tidak terima, mencoba untuk menjadi emak yang biasa lagi. Sikap emak yang seperti itulah yang sampai sekarang menjadi panutan bagi saya. Tentang Seseorang yang sekarang ini, emak tahu kalau saya butuh seseorang, emak sekali lagi tetap menyebut "bebas bertanggungjawab"
Saya nggak mau nyebut merk, takut pamali kalau kata orang Sunda. Pamali karena saya dan dia belum bisa berkomunikasi dengan baik beberapa hari ini*ternyata saya masih orang kuno! haha*. Maka dari itu saya butuh emak saya sebagai tempat curahan hati pagi tadi. Dari sekian banyak wejangan yang diberikan dari teman-teman, saya pilih wejangan emak. Wejangan emak sederhana, nggak njelimet tapi bikin kepikiran*nah loh*. Emak memberi banyak pernyataan-pernyataan yang cukup mengejutkan mengenai hal pacaran saya. Kalau untuk pernyataan itu mending disimpen diri sendiri dan emak dan Allah SWT saja yang tahu *dan kuping-kuping yang kepo yang kedapetan ceritanya :p*, saya cuma kepengen ngumbar wejangan emak saya

"Kamu itu cewek, cukup memilih tapi bukan asal pilih. Cuma nunggu tapi tidak selamanya harus menunggu. Kamu boleh memilih cowok yang kamu senangi, tapi apa dia benar-benar sudah yakin bisa me-manage dirinya sendiri untuk masa depan? Umur-umur segitu dia sudah bisa menetapkan dan memantapkan dirinya harus bagaimana, untuk apa dan siapa."

Jadi?