Tepat satu minggu lebih satu hari saya dan teman-teman kampus saya menikmati gelap, lembap dan panjangnya gua yang menghubungkan 2 kabupaten di DIY ini, Bantul dan Gunung Kidul. 


22 September 2013, (sekitar) 07.00 WIB

Kami bertujuh, saya, Winny, Wisnu, Tamam, Myke, Edi dan satu teman impor langsung dari Jepang, Norito berkumpul di bunderan UGM untuk berangkat bersama-sama menuju kabupaten Bantul, tepatnya di dusun Srunggo, Selopamioro, Imogiri, bantul. (sebenarnya sih sempat miskom tempat kumpul, wahahaha).

Berbekal pengetahuan minimalis tentang letak Gua Cerme (dimana kami mengira Wisnu tahu jalannya, eh ndilalah Wisnu ngiranya saya yang tahu jalannya, walhasil GPS pun digunakan orz*gagal jadi wong Jogja kabeh :v*), kami bertujuh dengan kendaraan motor seadanya, melaju santai menuju tujuan kami.

Syukur Alhamdulillah, ternyata petunjuk jalan Gua Cerme nggak pelit, bahkan dibilang mudah untuk mengantarkan kami ke sana. Sekitar 1-1,5 jam perjalanan lurus-kanan-kiri-naik-turun dan kami pun sampai ditempat~yeeeii~~

Keadaan Jalan Menuju Gua Cerme (Captured by: Winny WM)

Disambut dengan pemandangan seperti ini bersyukur banget sama yang Di Atas :">

Gua Cerme Rangers :v

Nah, Gua Cerme ini konon jadi tempat "base camp" (base camp yang seperti apa dan ngapain saya kurang begitu mengerti, maklum cuma dengar sekelumit dari Tamam yang tanya-tanya ke bapak2 guidenya :v) para Wali (Wali Sanga) yang ada di Jogja dan Jateng, salah satunya adalah Wali Sunan Kalijaga, hingga ada patung beliau sedang menunggangi kuda (sayang nggak terfoto, hiks) dan beberapa tulisan aksara Jawa menghiasi tangga yang ada disana (ini juga nggak saya foto, huwaaa).


Perjalanan kami dimulai dari Kabupaten Bantul. Dipandu oleh guide kami bernama pak Sagio dan ditambah dua teman lagi yang ikut rombongan kami, Dek Yaki dan Ayahnya. Yuk yuk tilik foto-foto yang sempat saya abadikan di dalamnya ya :">.



Daftar Rombongan :p

Guaception: ada gua di dalam gua, tapi sepertinya nggak sedalam kelihatannya, kelihatannya :|

Hati-hati ya, itu kalau kena tulang kering kalian cukup bikin kaki maha cenat cenut

Air terjun ini kudu dilewati agar bisa menuju jalan keluar

Tinggi air disini cukup beragam, dari yang cuma semata kaki hingga sedada orang dewasa +_+


Kami pikir putih-putih itu adalah salju, ternyata bukan, warnanya putih berkelap kelip, semacam ada serbuk gliter diatasnya, ntahlah itu zat apa, kemungkinan mineral (alamat jauh dari guide, nggak bisa banyak tanya T_T)


And.... finish!

お疲れ様!めっちゃ楽しかったね~

Akhirnya!

Our Guide: Pak Sagio

Sudah beda Kabupaten lho, ini di Gunung Kidul! ヽ(‘ ∇‘ )ノ

Jalan Pulang: Ini sama saja kita berjalan kembali dengan jarak gua yang kita tempuh tadi,  jadi total jalan yang kalian tempuh untuk berangkat-pulang kira-kira 2.4 km, cukup pak, ampun~! +_+

Kembali menemukan pemandangan yang bikin terus bersyukur dan menyadari nggak sia-sia kami jalan jauh :"> 
INI BAHAYA: Serius, jalan ini bahaya banget, dengar-dengar dari Bapaknya Dek Yaki kalau jalan ini sudah memakan korban jiwa, so... jalannya pelan-pelan aja, nggak usah pecicilan kayak anak-anak abege di belakang kami pekan lalu -__-

Sudah kembali lagi ditempat semula, yatta! ヽ(;▽;)ノ

Bersama Bapaknya Dek Yaki (dan sampai detik beliau pulang saya nggak tahu namanya orz), Dek Yaki-nya nda mau foto bareng saya sih T_T


Informasi, Tips dan Wejangan mengenai Gua Cerme:

Informasi Biaya:
-Biaya Masuk: Biaya masuk Gua Cerme terbagi menjadi 3: biaya konservasi untuk daerah Bantul seharga 3000 rupiah, biaya konservasi untuk daerah Gunung Kidul seharga 3000 rupiah pula dan biaya guide. 
-Biaya guide ini saya agak lupa, yang jelas bila rombongan kalian kurang dari 15 orang dikenakan biaya 40.000 rupiah per-kelompok/per-rombongan, jadi lebih baik bawa rombongan diatas 15 orang.
-Biaya Sewa Lampu Senter: ada dua jenis senter, senter biasa dan senter kepala. Harga keduanya sama 5000 rupiah.
-          Biaya Parkir: motor 2000 rupiah, mobil ±5000 rupiah.

Informasi Jalan:
-Akses jalan yang kami gunakan adalah melewati Terminal Giwangan. Lurus saja ke selatan sampai nanti menemukan banyak petunjuk jalan menuju Gua Cerme.
-Jalan dari Terminal Giwangan sampai Pasar Imogiri lempeng nan lurus, namun setelah itu sekitar 8km sebelum sampai Gua Cerme jalannya bakal naik turun macem BGMnya Ninja Hattori :|.
-Sedangkan jalan masuk Gua Cerme sendiri ada dua, yang melewati tangga (yang menjadi garis finish kami) atau dari sisi patung Sunan Kalijaga.

Tips dan Wejangan:
-Wajib dibawa: Baju ganti dan handuk sudah pasti. PLASTIK! Bagi kamu yang suka foto-foto dan tidak ounya watercase macam saya ini lebih baik bawa plastik cukup tebal dan besar (kalau kameranya besar ya), ini bakal sangat berguna.

-Optional:
  • Pakaian yang kamu gunakan untuk masuk lebih baik yang bebas gerak dan melindungi tubuh, celana training dan kaos lengan panjang misalnya. Untuk alas kaki lebih baik pakai sepatu karet atau boots karet kalau punya, karena jalan di Gua Cerme itu licin dan berlumpur, jangan kayak saya pakai sendal jepit, tidak baik untuk ditiru :p.
  •  Minuman dan Snack (kalau bisa yang hangat-hangat, sebenarnya banyak juga yang jualan mie cup dan wedang panas2), bolehlah :D.
-         -Barang-barang seperti tas bisa kamu titipkan ditempat kamu menyewa lampu senter.


Sekian, Gua Cerme kami tutup dengan makanan satu ini:

Mie Ayam Bakso dan Es Teh \(^ ^)/

Saa, selamat akhir bulan September teman-teman! Mari kita sambut Oktober yang tinggal 45 menit ini! fiuh... untung masih keburu posting
05.24 AM, from Gamplong, Sumberrahayu, Moyudan, Sleman, Yogyakarta

Mendadak pengen banget ngepost sesuatu, pengen cerita banyak, tapi bingung mau nulis apa dan darimana, walhasil cuma tulis menulis geje pagi hari ini habis solat subuh dan nangkring di depan komputer Rumah Pintar Mentari di Dusun Gamplong 3, tempat saya melakukan aktifitas  KKN yang sudah jalan 4 minggu ini \(@ ̄∇ ̄@)/

Sekilas tentang dusun Gamplong, dusun ini dikenal sebagai sentra kerajinan anyaman dan tenun. Letaknya di desa Sumberrahayu, ya pokoknya itu deket2 sama daerah Godean (dan deket banget sama rumahnya @liaayei yang jelas, woohoo! o(≧∇≦o))

Karena fotonya masih ada di kamera dan beberapa di flashdisk dan belum sempet menyortir, saya susulkan saja ya, yang jelas disini tempatnya enak banget, jauh dari hiruk pikuk kota (tapi sebagai gantinya tiap beberapa waktu suara klakson dan gejes-gejesnya kereta api, deket banget sama rel!), tenang, orang-orangnya ramah, dan tentunya, seru nan hepi :'3

Yang mau mampir, sini sini! Nanti saya ajakin ke rel kereta api penghubung antara kabupaten Sleman dan Kulonprogo, penasaran? Tunggu postingan selanjutnya ya :3

Well, selamat menjalankan ibadah puasa juga ya minna, semoga bulan puasa ini penuh berkah, seperti saya disini, penuh takjilan dan teman-teman baru yang juga super dalam hal apapun yang berbeda-beda \^^/
Selamat Malam menjelang pagi~, kali ini saya mau memposting hasta karya yang saya pelajari dari blog mantep yang saya temui ketika browsing kemana-mana tentang kamera lubang jarum:



Sedikit cerita tentang kamera unik ini, kamera lubang jarum atau nama kerennya kamera  obscura merupakan kamera tanpa lensa dan hanya menggunakan titik suangaaatt kecil. Kamera ini akan berfungsi kalau seluruh dalam 'tubuh'nya hitam semua. Tubuhnya sendiri bisa dari apa saja, dari yang namanya kardus, sampai kaleng bekas rokok bisa disulap jadi kamera ini ;).

Dari titik suangat kecil itu bisa jadi gambar? Bisa dong, cahaya yang melewati titik kecil itu akan memproyeksikan gambar yang ditangkap dan terekam secara terbalik nantinya. Dan kamera ini sudah ada sejak abad ke-5 sebelum masehi oleh seorang filsuf Mohist di jaman Cina Kuno bernama Mozi, lalu dari tahun 1000 hingga tahun 1600, sudah tercatat orang-orang yang menulis tentang kinerja kamera ini seperti seorang ilmuwan dari Persia bernama Ibn al-HaythamGemma Frisius dan Giambattista della Porta. Untuk lebih lanjut mengenai sejarahnya bisa di cek di http://en.wikipedia.org/wiki/Pinhole_camera atau mampir ke blognya kaleng harapan :p

Nah, bahan-bahan yang saya pakai untuk kamera lubang jarum ini terpatok dari blog yang sudah saya sebutkan diatas, seperti:


1. Pilox warna Dull Black (warna hitam doff)
2. kaleng bekas minuman
3. Kaleng bekas rokok
4. Gunting
5. Kertas amplas
6. Cutter
7. Palu

dan ada barang2 yang tidak ada difoto yg penting juga seperti paku, lakban hitam (saya menggunakan dua, lakban besar, sama lakban kecil untuk kabel listrik gitu) dan JARUM PENTUL tentunya, penentu dari segala penentu ini #halah.

cara pembuatannya juga nda jauh2 beda sama blog kaleng harapan jadi saya share beberapa foto proses pembuatan kamera lubang jarum yang saya lakukan tadi sore:

Tengahnya dilubangi menggunakan palu, biar nggak penyok2 kayak punya saya ini, katanya si empu kaleng harapan, bisa ditahan dalemnya, tapi ditahan bagaimananya saya juga nggak begitu ngerti XD
Setelah dibolongi kaleng bekas rokok tersebut, semprot bagian dalam 'tubuhnya' dan bagian dalam tutup kaleng menggunakan pilox warna dull black:

tadaaahh~semacam inilah nyemprot2nya, kalau nggak rapi dimaklumi, masih pemula inih sayaah >.<


Selagi menunggu seluruh cat piloxnya mengering, bisa disambi untuk mempersiapkan lubang jarumnya, si inti kameranya ^^d.



diamplas, amplas, terus dipotong kecil lalu dibolongi menggunakan jarum seperti gambar selanjutnya ini:

Kira-kira 0.03mm ukurannya itu lubang, cukup ditekan-tekan menggunakan jarum pentul sampai terlihat cahaya menembus :D

Setelah cat pilox mengering, tempelkan lempengan besi kaleng bekas minuman yang sudah dibolongi menggunakan lubang jarum tadi ke lubang yang lebih besar yang kita buat tadi di kaleng bekas rokoknya.

kira-kira seperti ini hasilnya, yang saya pegang itu shutternya loh ;)

detail titik lubang jarumnya

Lubang dari dalam 'tubuh' kamera

Tutupnya juga jangan lupa diberi lakban, kalau menurut saya karena tubuhnya peyok, jadinya ya harus ada lakban itu untuk membantu agar tidak ada cahaya yang masuk selain dari lubang jarum.




出来た!

tadaaaahh, selesai juga membuat Kamera Lubang Jarum ini, tapi sayangnya belum sempat merekam dan mengolah apapun dengan barang-barang seperti dibawah ini karena waktu yang tidak memungkinkan T^T

Superbrom untuk developer, Acifix untuk fixer, Merit alias Merit Ilford alias Kertas hitam putih alias  Kertas Emulsi alias media untuk tempat hasil rekam yang tertangkap

Dimana bisa mendapatkan ketiga barang tersebut di Jogja? Setelah hampir mau titip teman di Jakarta, akhirnya saya mencoba untuk mencarinya di Central, toko kamera yang ada di Jl. Solo. Untuk masalah harga, kertas emulsi (kalau ke Central disebutnya kertas Ilford/hitam putih) dibandrol 125ribu isi 100 lembar ukuran 3R. Sedangkan Superbrom dan Acifix ini bentuknya bubuk yang harus dilarutkan oleh air (ketentuan dan cara penggunaan bisa dilihat disini: http://kalengharapan.blogspot.com/2013/01/proses-mencuci-media-rekam-di-kamera.html) masing-masing harganya dibandrol 20ribu :).

Untuk kertas dan serbuk2 tersebut memang cukup mahal, tapi kalau sudah bosan dengan kegiatan seperti edit2an di komputer menggunakan sotosop dan kawan-kawannya, saya rasa Kamera Lubang Jarum bisa jadi alternatif lain untuk bermain dan belajar di dunia fotografi (macak bobo saja saya inih,XD). Ingat! Fotografi itu ilmu sekaligus seni melukis dengan cahaya sebagai media utamanya. BUKAN ilmu dan seni digitalisasi semata ;).


special thanks to:
Mas @arieharyana, selaku pemilik blog Kaleng Harapan, yang sudah mau melayani pertanyaan-pertanyaan amatiran seperti saya ini, maaf ya kalau mengganggu >.<


Btw, selamat Bulan Juli teman-teman :D, selamat KKN bagi yang menjalankan, termasuk saya..mihik T^T9 衣装件名頑張りましょう!
Diantara banyaknya tugas yang numpuk untuk ujian besok Senin, saya malah terlarut untuk nulis-nulis ketik-ketik nggak jelas lagi.

Ini tentang seorang teman, yang pernah bertanya mengenai tentang dirinya, apa pendapat saya tentang dirinya.

Diiringi lagu dari Efek Rumah Kaca - Desember, saya mengetik ini. Lagu Desember ini sangat cocok untuk merepresentasikan tentang seorang teman saya itu, selain karena bulan kelahirannya, Ia adalah seorang sahabat, seorang kakak yang selalu bicara sangat bijaksana, adil dan menyejukkan dengan suara teduhnya, seorang partner yang bisa diajak untuk tukar-menukar lagu, konsep, video, bacaan, dan sebagainya. 

Tapi dari sekian sisi positif itu, seorang teman ini ternyata senang bernyanyi sendiri, berbagi cerita untuk dirinya sendiri, seperti menyembunyikan hal-hal misterius yang tak diketahui banyak orang, malahan tidak boleh dibagi oleh siapapun, hanya untuknya, seorang.

Ia yang seperti menunggu sisi gelap, sisi kelamnya untuk diterangi. Ya, Ia seperti pelangi, yang setia menunggu hujan untuk reda, seperti kisah sedih yang harus diputarbalikkan menjadi balada lainnya.



PS:
Saya tahu kalau seorang teman ini juga tipe orang yang kepo, kalau baca, saya sudah menjawab pertanyaan anda tempo hari itu ya.
Selamat dini hari semuanya, senangnya saya punya bahan buat postingan baru bisa bertemu lagi di postingan blog saya ini ヽ( ̄(エ) ̄)ノ.

Jadi ceritanya hari ini kemarin (atau tepatnya) tadi siang puncak-puncaknya iseng dan selo minggu ini, padahal tugas numpuk, UAS sebentar lagi (hari ini malah ada satu :p) dan saya malah buat ini:


Green tea-Strawberry Brain Freeze! Cetaaarr~~

Ehm, apa ya namanya, ini campuran dari green tea bubuk:





beberapa buah stroberi (tadi saya pake 3 buah aja, soalnya "menyelamatkan" dari yang sudah busuk, hiks); terus saya pake susu kental manis sachetan kayak gini:

ada indomilk juga kok, seribuan aja :3

es batu dan sedikit air lalu saya blender pakai alat yang ada di rumah dan kebetulan ada blender macem gini:





Bahan dan cara membuatnya:

bahan 1:
1-1½ sdt green tea bubuk, selera kamu
1 sct susu kental manis
es batu secukupnya
1-2 sdm air dingin/biasa

blender semuanya sampai es batu hancur ya~
setelah menurutmu sudah hancur dan tercampur semua, masukkan ke dalam gelas

bahan 2:
3-5 buah stroberi, cuci bersih, potong 2
1 sct susu kental manis
es batu secukupnya
1-2 sdm air dingin/biasa

caranya idem dengan bahan pertama
setelah hancur, masukkan ke dalam gelas yang sama dengan bahan 1.

fyi: 

-green tea bubuk 25 gr (kayak di foto atas) harganya 15ribu, kalau kamu tinggal di Jogja dijual di toko kue INTISARI, disana ada banyak macam bahan-bahan minuman termasuk bubuk green tea ini ^^
-blender apapun bisa kok, asal tetap menjaga es batu TIDAK BERUBAH menjadi terlalu cair atau malah jadi air.
-susu bisa diganti susu cair+gula, tapi sedikit saja, biar gak terlalu berair

nah, selamat mencoba dan  ber-brain-freeze-an ya :9

kembali nugas

Dimulai dari hari Senin, minggu ini, dengan dalih aku ingin menemanimu untuk mengotak-atik video yang telah kita (dan teman-teman satu grup lain tentunya) ambil seminggu sebelumnya.

Dimulai dari hari Senin, minggu ini, aku menghampirimu di ruangan yang sangat-tidak-terkenal-sama sekali dikalangan mahasiswa di kampus kita. Kamu sendiri, kala itu, dan kamu berkata, “tunggu sampai petugas lab audio-visual membalas sms-ku, ya.” Aku mengiyakan sambil bermain-main dengan wacom bamboo-mu—menggambar-gambar tidak jelas yang tervisualisasikan di layar komputer-lipatmu.

Dimulai dari hari Senin, minggu ini, dan balasan pesan singkat dari petugas lab tidak kunjung sampai. Hingga akhirnya kamu menyeletuk, “Ah, nggak dibalas-balas... jadi pengen deh nonton Slam Dunk lagi, copy sama siapa ya..” yang membuatku langsung tersentak dan nekat mengajakmu untuk ke salah satu warnet yang sedang gencar-gencarnya dibicarakan halayak mahasiswa penggemar animasi, film, lagu, dan sebagainya.

“Kapan?” tanyamu. Dan aku langsung menyeretmu ke parkiran untuk langsung meluncur kesana, kamu pun berubah jadi orang “lah loh” hingga akhirnya kita tetap berangkat ke tempat yang akhirnya kau sebut sebagai War-Dat, warung data.

--
Hari Selasa, minggu ini, kita bertemu lagi. Waktu itu sudah menunjukkan tengah hari. Sehabis berkumpul dengan teman-teman drama, aku langsung mengirim pesan singkat untukmu, menanyakan posisi, karena dari semalam hari Senin itu, terbesit ingin memberimu satu ‘hadiah kecil’.
“Nih, gratifikasi.” Kataku. Ekspresi darimu menunjukkan kebingungan dengan kotak kecil yang aku berikan padamu.

“Gratifikasi, aku mau disuruh ngapain?” tanyamu. Aku menimbang-nimbang apa yang bisa aku dapatkan darimu hari ini. Dan teringatlah aku dengan tugas membeli beberapa lembar kain untuk pentas dramaku.

“Ya, okelah, makasih ya.” Senyummu mengembang. Senyum ala anak kecil yang membuatku lupa kalau kamu itu lebih tua dariku. Saat kau menikmati gratifikasi tersebut, hujan mulai turun, dan disitulah, di ruangan yang sangat-tidak-terkenal-sama sekali dikalangan mahasiswa di kampus kita, aku menikmati sosokmu yang sedang makan sekaligus sedang menghadap ke layar komputer-lipatmu, menonton Slam Dunk yang ter-copy kemarin.

Pukul 16.00 WIB, sekitar waktu itulah, kita menyeruak keluar dari ruangan itu, langsung menuju parkiran yang masih penuh sesak dengan motor-motor aneka jenis itu. Sempat berdebatlah kita siapa yang akan membawa motorku, dan kamu berkata “ya janganlah, aku aja yang bawa, masak aku bonceng kamu, kamu jadi navigator saja sudah cukup”, aku hanya angkat bahu, sambil berbicara dalam hati tentang kamu yang terlihat berbeda di waktu-waktu sebelumnya. Dan tiba-tiba, muncul seorang wanita berbadan kecil yang menyapa kita berdua, lebih tepatnya seperti memergoki. Wanita itu langsung mencibir halus kalau kita sedang berdekatan, aku dan kamu hanya bisa terkekeh bodoh, bingung mau membalas apa ke wanita itu. Dan kita pun langsung berpamitan dengan wanita kecil yang lebih dewasa dan matang dari kita itu.

Dan malamnya, kamu mengirim pesan singkat yang tidak pernah aku bayangkan, kata terimakasih dan pujian singkat untuk gratifikasi hari ini, kata-kata sederhana sebenarnya, namun efek yang ditimbulkan hingga keesokannya.

--
Hari Rabu, hari selanjutnya, minggu ini. Tak banyak yang kita lakukan hari ini, hanya bertegur sapa via pesan singkat dan bertemu cukup beberapa menit saja di ruangan yang sama.
“Mau kemana?” tanyamu. Aku bicara sebelumnya bahwa aku akan pergi bersama ‘teman’ku makan siang bersama dan ingin rasanya mengajakmu, tapi sayang ‘teman’ku satu ini ingin ditemani ke beberapa tempat dan cukup menguras waktu, dan disela-sela saat bersama ‘teman’ku itu, terlintas kegiatan tak sengaja kita akhir-akhir ini.

--
Hari Kamis, minggu ini. Mata kuliah pukul 09.00 WIB lebih sedikit membuat teman-teman sekelasku malas, kebanyakan memang mengambil jatah ‘bolos’ yang belum banyak terpakai, termasuk aku. Setelah makan siang bersama kedua teman yang menjadi ‘setan’ dalam hal bolos ini, aku sempat mengirim beberapa pesan singkat untukmu seperti biasa menanyakan keberadaanmu dan ingin meminjam kamera. 

Adanya tugas foto membuat rasa malas menjalar untuk mengerjakannya, dan karena keteledoranku pula, kamera pun lupa dibawa. Ingin meminjam kamera di ruangan tempat biasa kita bertemu, tapi ternyata, karena bukan punya sendiri dan sudah terlanjur bolos, aku pun memutuskan untuk pulang ke rumah saja, niatnya untuk mengambil kamera saja, tapi kenyataannya aku berleha-leha di kamar sambil tetap ber-pesan singkat ria denganmu, dan aku tersenyum-senyum saat aku bilang padamu bahwa aku bolos dan kamu balas dengan kata “bandel”, mirip bapak-bapak yang memarahi anaknya. Dan sekali lagi, aku mengajakmu untuk ke War-Dat yang kamu bilang itu, dalih kali ini karena beberapa film dan animasi yang kamu inginkan belum ter-copy, dan titipan lagu-lagu yang diinginkan oleh ibuku (aku sedang malas mendownload sendiri di rumah) sekaligus bisa duduk bersebelahan denganmu di War-Dat itu.

Aku menjemputmu di depan gang yang aku ketahui karena aku mengantarmu pulang di minggu ini (aku lupa itu hari apa, maaf). Sambil menunggu, kamu sedang khusyuk dengan komputer-lipatmu hingga menyadari aku sudah di depanmu. Karena tidak ada helm dua, dan helm-ku aku serahkan padamu, kamu menawari topi coklat muda yang biasa kamu gunakan. Aku menolak, karena waktu itu aku menggunakan jaket ber-kupluk.

Dan inilah kita, menunggu giliran karena sedang penuhnya si War-Dat. Kita berbincang-bincang kecil sambil membunuh menit-menit akibat menunggu salah satu box War-Dat kosong. Dan namaku dipanggil oleh mas-mas penjaga War-Dat, dan kita siap menyedot data-data yang ada.

U2, Oasis, beberapa lagu indie baik barat maupun di Indonesia, hingga instrumental dari beberapa film dan animasi kita babat dan jejalkan ke dalam hardisk-ku yang mulai menipis kapasitasnya. Tentunya tak ketinggalan animasi dan film yang kamu inginkan juga ikut terangkut ke dalam kotak data yg kini hanya tersisa beberapa puluh Giga Byte itu.

Di sela-sela menunggu perpindahan data, kamu bilang kamu mengantuk, dan posisi kepalamu tegak dan tak terlihat nyaman itu membuatku gemas untuk menarik rambutmu dan menyandarkan kepalamu ke pundakku, dan tertidurlah kamu, beberapa menit hingga tanganku tak sengaja bergoyang membuatmu terbangun, namun kembali aku tarik rambutmu—mengisyaratkan untuk tetap bersandar, dan kamu menurutinya.

Sekitar pukul 13.00 WIB, aku mengajakmu untuk ke gedung besar sebelah kampus kita, latihan drama. Jujur, saat itu, ingin rasanya aku beralasan untuk tidak ikut latihan, namun kamu tetap mengantarkanku dan kamu bilang kamu ingin mengerjakan video di perpustakaan yang hanya beberapa langkah dari gedung besar itu. Dari kata-katamu itu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk bisa menyelesaikan secepat mungkin latihan drama ini dan langsung cepat-cepat menyusulmu disana.

Pukul 15.00 WIB, latihan sudah selesai, dan akhirnya aku mendapatkan model tugas foto persmaku. Saking senangnya, aku mengabarimu sebelum jam 3 sore itu, jam fotoku sekaligus waktu hujan kembali mengguyur. 3 jepretan, dan aku langsung melesat ke perpustakaan, mencarimu dari pesan singkat yang kamu kirim sebelumnya, dan akhirnya menemukanmu di salah satu pojokan salah satu ruangan di perpustakaan itu.

Aku menyuruhmu untuk bergeser, dan aku pun langsung duduk, beradu bahu denganmu. Aku menanyakan progress video dan kamu menjawab sambil menunjuk hasilnya, “sedang aku convert saja kok, file-nya tidak bisa terbaca dari program video editor-ku soalnya.” Dan aku hanya ber-ooh saja. Merasa tidak banyak membantu, akhirnya aku mengambil buku di tas yang sudah aku taruh di loker luar. Buku tentang membangun kreativitas dan aku tahu kamu sangat suka dengan buku-buku seperti itu. Fokusmu pun teralihkan, ikut membaca buku yang sedang aku baca dibagian yang lagi asyik-asyiknya. Dan kita mengutarakan hasil-hasil pemikiran setiap setelah membaca beberapa bab dari buku itu, berbicara apa saja, hingga akhirnya kita pun terdiam kembali, kamu sibuk dengan laptopmu dan fokusku tiba-tiba teralihkan dari buku yang telah selesai aku baca ke kakimu yang besar, haha!

“Mak, kakimu, besar banget!” tukasku sambil mengetuk-ngetukkan tumitku ke ujung-ujung jari kakimu.

“Wah, kakimu anget, pinjem bentar sini,” dan kamu langsung membungkus satu kakiku yang mengetuk-ngetuk tadi dengan kedua kaki besarmu itu, bergidik geli karena kaki-kaki besarmu benar-benar kedinginan.

Pukul 17.20an WIB, aku merajuk-rajuk agar kamu mau ikut denganku ke persma, hanya sekedar untuk menumpuk foto yang tadi aku ambil.

“Sudah lama kan nggak kesana, ayolah!” Pintaku. Ya, aku mengetahui dirimu dari persma itu, jadi, tidak ada salahnya kan kalau kamu ke sana sekedar bertegur sapa dengan teman-teman persma walau kamu sudah jarang—malah tidak pernah sama sekali ke sana lagi.

“Nggak enak nih..” Balasmu. Aku tetap bersi-keukeuh bahwa kamu harus kesana, sampai-sampai aku rela menemanimu ke pasar malam-malam.

Voila, berhasillah aku mengajakmu ke persma, beberapa teman kaget dan kembali kita dicibir seperti yang dilakukan oleh wanita kecil yang lebih dewasa dan matang dari kita itu.

Sebagai janji yang telah aku bilang kepadamu, aku menemanimu ke pasar demi membeli telur dan teri kering yang kamu bilang sebelumnya.

Dan malamnya, saat aku tak sengaja memikirkan apa yang sudah kita lakukan selama ini, kamu mengirim pesan singkat: “Sudah sampai di rumah?”

--
Hari Jumat, hari ini, tepat 5 hari di minggu ini kita terus bersama. Aku tetap dengan alasanku bahwa aku akan menemanimu untuk mengotak-atik video yang telah kita ambil seminggu yang lalu, padahal niatan itu sudah berubah. Aku hanya ingin bersamamu, di kala ada kesempatan. Nyaman dan nyambung, itulah alasan utamanya.

Dan itu aku lakukan, pagi ini aku menjemputmu, seperti hari Kamis minggu ini. Kali ini karena ada orderan sarapan dari teman-teman sekelasku, kamu pun ikut memesannya karena mendengar cerita ini sebelumnya di hari Kamis, minggu ini.

Kali ini kamu menunggu sambil terpekur dengan satu buku, tentang sastra. Dan kita pun berangkat ke kampus bersama lagi, tentu saja, bertukar posisi, aku dibelakang, si pembonceng dan kamu di depan, si tukang ojeknya.

Kuliahku seperti biasa selesai pukul 09.00 WIB, teman-teman sekelasku mengajak makan-makan yang diadakan oleh adik angkatan, gratis, tempatnya juga di alam terbuka. Aku pun menyetujuinya, siapa tahu aku bisa mengambil secuil makanan untukmu, janjiku dalam hati.

Dan benar saja, aku mengambilnya untukmu! 2 lumpia goreng, khusus untukmu. Tentu saja seperti biasanya, kamu ada di ruangan yang sangat-tidak-terkenal-sama sekali dikalangan mahasiswa di kampus kita. Tentu saja seperti biasanya pula, kamu sendiri di ruangan itu, dan mengaku bahwa tidak enak badan hari ini dan mengaku pula bahwa kamu membolos 2 mata kuliah sekaligus hari ini.
“Beneran nggak apa-apa? Mau pulang?” tanyaku. Kamu menggeleng, tidak ingin. Ada rasa tidak enak denganmu, kalau kamu mau membolos kuliah pagi, tentu aku tidak mengajakmu untuk berangkat ke kampus bersama.

Pukul 12.00 WIB, waktunya kamu bersiap untuk solat Jumat.

“Aku tinggal ya,” Dan kamu menepuk-nepuk puncak kepalaku.

Di sela-sela membongkar laptopmu, kamu yang meninggalkan handphonemu itu membuatku tergelitik untuk membukanya (maaf!). Ada beberapa pesan singkat dari keluargamu, teman-temanmu, aku, dan ada beberapa pesan singkat yang membuatku terperanjat. Ada kisah kelam di dalam smsmu itu, rasanya ingin bertanya setelah kamu kembali dari solat Jumat, tapi.. aku meredamnya dan mengembalikan posisi handphonemu seperti semula, dan memutuskan untuk menonton film saja.

Pukul 12.40an WIB, kamu kembali, sedangkan aku sudah mulai menonton Rectoverso, hasil angkut-angkut data kita kemarin.

“Ceritanya sedih ya?” tanyaku, dan kamu menjelaskan beberapa scene yang sebenarnya tidak ingin aku dengar dan akhirnya aku memintamu untuk tidak menceritakannya sama sekali. Diselanya, aku nekat memegang dahimu, mengecek apakah kamu demam atau tidak.

“Lumayan panas tuh,” ucapku, dan kamu hanya ber-ooh saja tanpa berkomentar banyak.

Pukul 13.10 WIB, aku merajuk padamu untuk tetap di ruangan ini, menemaniku untuk menonton, alias mempengaruhimu untuk tidak usah kuliah aka bolos.

Sayangnya, tidak mempan. Kamu bersiap-siap untuk kuliah, aku hanya bisa merengut tanda tidak setuju. Seperti mengetahuinya, kamu kembali menepuk-nepuk kepalaku dan langsung pergi untuk kuliah.

Akhir dari Rectoverso yang diangkat dari buku antologi penulis kondang ini, memang sedih... aku menangis, sesenggukan. Entah karena aku sedih dengan kenyataan yang aku tahu atau karena pengaruh film itu, seakan-akan bercampur.

Pukul 15.00 WIB, kamu kembali, dan posisiku sedang mendengar musik-musik Kings of Convenience yang sudah di remix sambil memainkan game yang satu-satunya kutemukan di laptopmu. Kamu mengambil posisi duduk disebelahku.

“Sini, pinjam kamera, lihat foto-fotonya tadi” Ingat saja ini orang, batinku. Dan aku mengeluarkan tas berukuran sedang dan menyerahkannya kepadamu. Dengan melihat-lihat foto, kamu bertanya tentang apa saja objek yang aku potret dan yang tersimpan di memorinya. Duduk kita terlalu dekat, tapi aku tidak peduli. Hingga akhirnya kamu nyeletuk sesuatu yang.. kinda cute.

“Boleh senderan?” tanyamu ragu. Aku mengiyakan saja. Tidak berapa lama kemudian keadaan ruangan yang sangat-tidak-terkenal-sama sekali dikalangan mahasiswa di kampus kita ini mendadak ramai, aku yang memang sudah dari tadi ingin hengkang untuk ke persma karena panggilan rapat akhirnya berpamitan.

Pukul 16.38 WIB, tiba-tiba ada pesan singkat darimu, ingin pulang bersama. Ingin cepat ke ruangaaann ituu.. teriakku dalam hati. Rapat sebenarnya tidak ada, namun aku terlanjur memesan makanan. Makanan sampai, aku mengejar-ngejar ketua acaraku untuk cepat memberiku uang yang ia janjikan untuk konsumsi. Selesai semua, aku pun melesat ke kampus.

Waktu masih menunjukkan jam 5 lebih dan ruangan yang tadi mendadak ramai sudah kembali lagi keadaannya, keadaan kamu sendirian disana.

“Nih.” Aku menyodorkan makanan yang sudah aku beli dengan cara menitip teman di persma. Kamu seakan enggan tidak mau makan, tapi akhirnya paksaanku tetap menang.

Pembicaraan disela waktu makan kita, dari beberapa pertanyaan biasa berakhir dengan aku mengaku padamu.

“’teman’ kemarin itu, mantanku.” Mimik wajahmu terlihat ada rasa terkejut tapi segera kamu tutup-tutupi dengan ketenanganmu.

Dan pembicaraan kita terus berlanjut, tentang ceritaku dan ‘teman’ku itu. Kamu menanyakan dan memberi advice yang sama seperti dan sering aku dengar dari banyak orang.

“gantian kamu,” pintaku. Kamu gelagapan, bingung mau menceritakan apa.

“emang aku belum pernah cerita ya tentang aku?” sejak kapan kamu cerita tentang dirimu, batinku terkekeh.

Dan banyak sekali hal-hal tentang dirimu yang tidak akan aku ketahui kalau kamu tidak menceritakannya hari ini.

Namun, sampai saat ini.. aku masih penasaran, siapa wanita yang ada di dalam daftar pesan singkat di handphonemu itu?

Dan malam ini sama seperti malam sebelumnya setelah aku mengantarmu pulang dan kamu mengirim pesan singkat: "Sudah sampai rumah?"


(いろんな絵の具、ありがたいね)

Selamat Bulan Juni teman-teman :D.